Breaking News

laporan utama

Senin, 31 Oktober 2011

Voli Syariah Masuk Babak Semi Final



Senin, 31 Oktober 2011 | Suryani Musi
HPK (Kiri) melawan Ilmu Hukum (kanan) UIN Alauddin

Washilah Online-Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) untuk emmperingati hari jadi Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) cukup alot.


Sudah beberapa hari pertandingan tersebut berlangsung. Sampai tadi (31/10/2011)  jurusan Hukum Peradilan dan Ketatanegaraan (HPK) dan jurusan Ilmu Hukum memasuki babak semi final.

Awal-awalnya HPK menduduki poin teratas, namun detik-detik berikutnya Ilmu Hukum berusaha untuk mengejar sampai akhirnya Ilmu Hukum berhasil menang. Skor yang tercetak dari Ilmu hukum sebanyak 15 skor dan HPK 6 skor. 

Jadi yang masuk ke abbak final besok adalah jurusan HPK melawan Akuntasi. 

Menurut ketua panitia, Nursyam mengatakan bahwa untuk putri yang menang adalah jurusan Akuntasi. 

“Untuk Babak semi finl untuk putri digondol dari jurusan Akuntasi dengan dua set langsung, namun saya tidak tahu berapa pointnya, namun yang pasti dia akan melawan jurusan Manajemen untuk memperebutkan hadiah juara I voli putrid,”katanaya.

Kapolda Sulsel: Gerakan Pemuda Generasi Terdahulu Lebih Berhasil daripada Generasi Sekarang



Senin, 31 Oktober 2011 | Suryani Musi
baca Dari Kiri, Dr Sabri, moderator, AKBP MUh Tahir SH MH

Washilah Online-Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan, Drs H Johny Wainal Usman MM menyatakan bahwa gerakan pemuda sekarang semakin dijauhi oleh masyarakat.


Pernyataan tersebut disampakan lewat power point yang disampaikan lewat Akbp Muh Tahir SH MH selaku perwakilannya di acara Seminar dan Dialog Kepemudaan yang dilaksanakan oleh Unit Kegitan Mahaisswa (UKM) Lembaga Dakwah kampus, Al-jami. Kegatan tersebut berlangsung di gedung Auditorium kampus II Samata Gowa, Senin (31/10/2011).

Kegiatan ini juga dhadiri oleh Dr Sabri AR yang membawakan materi tentang sejarah lahirnya sumpah pemuda. Kapolda Sulsel yang terwakili menyampaikan tema Gerakan Pemuda Antara Ancaman dan Kontribusi Terhadap Negara.

“Pemuda sekarang ini seakan terjebak dalam suatu perlaku yang stagnan, yang dalam menghadapi permasalahannya tidak melihat secara mendaalm substansi permasalahn yang mereka hadapi. Sehingga muncul ketidakjelasan tujuan gerakan sehingga gerakan tersebut dlakukan hanya sebagai suatu rutinitas selaku pemuda,” ungkap AKBP Muh Tahir seraya membaca power point dari Kapolda.

Saat ini menurutnya lagi, berbagai demonstrasi pemuda sudah tidak mendapat respek lagi dari masyarakat. Yang mereka lakukan di jalan dengan turun ke jalan masyarakat sudah menilainya hanya sekedar karnaval, arak-arakan dan sejenisnya.

Padahal semestinya mereka memperjuangkan masyarakat tertib dan baik dari kebijakan penguasa dalam negeri maupun dari luar negeri. Degradasi moralitas inilah yang menyebebkan kemerosotan pola pikir dan daya intelektual pemuda.

“Teman-teman dari semua organisasi yang hadir d ruangan ini, kita harus mengubah konsep perjuangan kita. Kita memilih saja gerakan moral baik dari aspek sosial maupun segala aspek lainnya. Untuk gerakan intelektual, cukup di dalam kampus saja kita melaksanakannya. Kita tidak boleh terlalu dini pada persoalan politik praktis yang menyebabkan kita terseret pada kebangkrkrutan Indonesia dalam waktu cepat,”tambah Dr Sabri AR.

UKM LIMA Washilah Kemarin Adakan Pelatihan Jurnalitk XI


Senin, 31 Oktober 2011 | Suryani Musi
Anggota UKM Washilah ketika kunjungan media

Washilah Online-Setiap tahun Unit Kegiatan mahasiswa (UKM) Lembaga Informatika Mahasiswa Alauddin (LIMA) mengadakan pelatihan jurnalitik tingkat dasar untuk  anggota baru. 

Kegiatan tersebut telah berlangsung sejak hari Jumat 28 Oktober sampai 30 Oktober. Kegiatan tersebut mereka gelar di perpustakaan lantai III Kampus I Universiats Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar.

Selama 31 anggota yang tersaring dari seratus anggota yang telah mendaftar mengikuti kegiatan tersebut. Mereka menerima berbagai materi dari para praktisi media yang telah professional. Pemateri dari Tribun Timur, dari Fajar, dari Radio, dan dari Akademisi sendiri.

“Ini bukan awal dari pelatihan ini. Akan tetapi baru awal bagi mereka yang telah terpilih. Bentuk follow up-nya nanti selama mereka magang, dari penerbitan mereka akan dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil untuk membuat bulletin agar mereka terbiasa menulis dan mewawanvcarai. Sementara dari radio juga kan dilibatkan secara langung untuk menyiar meski harus melalui proses pembelajaran dulu sebelumnya,” papar ketua Umum UKM LIMA Washilah, Agus.

Menurutnya lagi, selama mengikuti kegiatan mereka telah banyak menerima materi pengenalan dasar jurnalistik dan radio. 

Prakteknya nanti mereka perdalam di magang meskipun sebelumnya pada malam minggu, seusai kunjungan dari Tribun Timur dan Harian Fajar, mereka diturunkan langsung ke lapangan membaur dengan masyarakat untuk praktek wawancara. Hasilnya mereka wujudkan dalam bentuk bulletin.

Senyum Mayang

   Oleh: Warich Ajja 


Pagi ini seperti pagi-pagi sebelumnya aku sedikit tergesa. Dengan langkah lebar-lebar dan sedikit berlari aku menyusuri tempat kerjaku yang baru.   Memang tak jauh berbeda. Hanya saja ini dua kali lebih besar dari tempat kerjaku yang lama.Aku pun harus menyusuri koridor-koridor panjang di sini. Melongok pada ruangan-ruangan yang berjajar-jajar rapi. Mencium aroma khas yang sebenarnya aku muak.Memakai seragam yang warnanya membuat aku sedikit jengah,membuat aku selalu memakai dan menanggalkannya di ruang kerjaku, dan tak pernah membawanya pulang.  



Puluhan koridor dengan panjang yang sama, ratusan ruangan dengan luas dan warna dinding yang juga sama, dan aku baru kemarin di sini. Itu membuat aku harus menghabiskan beberapa menit lagi untuk sampai pada ruang kerjaku karena aku harus menghafal sekian banyak tikungan. Dari tempat parkir mobil, satu belokan kanan, dua tikungan kiri,dan dua lagi ke kanan.Aku tergelak.. *** 

Gadis itu lagi.Sejak aku tiba di sini, dia sudah menempati ruangan itu. Dia sendirian, masih seperti beberapa hari yang lalu.Aku mengetuk pintu, masuk dan memeriksa beberapa hal di ruangannya. Diamdiam aku mengamatinya. Dia tidak terlalu tinggi, dan cenderung kurus. Rambutnya yang lurus sebahu lebih sering terikat ke belakang. Usianya sekitar delapan belasan. Kilatan matanya tak menunjukkan semangat, juga tak ada banyak harapan tergambar dari tatapannya.  Wajahnya sedikit pasi, dan tubuhnya kering.Keletihan, perasaan jenuh,dan mungkin sedikit rasa muak tergambar di wajahnya.Namun,semua itu tertutup oleh senyumnya. “Selamat pagi..,”sapaku. “Selamat pagi, Dok!” dia menjawab, dan menghadiahkan sebaris senyum untuk aku, manis. *** 


Baru lima hari ini aku bertemu dengannya,dan selanjutnya mungkin aku akan banyak berinteraksi dengan dia. Kulihat banyak yang mengenalnya di sini.Hampir semua yang bertemu dia,menyapanya,menanyakan keadaannya hari itu. Akhirnya dari mereka kutahu, gadis itu bernama Mayang. Gadis ini ramah.Senyum manisnya selalu menghiasi wajahnya yang sedikit tirus.  Dia akrab dengan semua orang di tempat ini, dia akrab dengan sebagian suster, dia akrab dengan sejumlah dokter, dia akrab dengan seluruh ruangan di rumah sakit ini,tak terkecuali.Sedikit canda terkadang mencuat dari bibirnya, dan kami tertawa menyambut gurauannya. 

Sebuah keakraban yang jarang kutemui di rumah sakit mana pun. Kuamati hampir semua kegiatannya.  Bukan karena iseng, atau karena gadis itu cantik. Bukan karena aku laki-laki dan dia perempuan,tapiitulahtugasku. Dan tak dapat kupungkiri bahwa Mayang memang gadis yang cukup menarik. Pagi hari dia selalu terlihat segar setelah mandi.Pucat yang biasanya menghiasi wajahnya sedikit bias seusai dia mandi.  Sapuan bedak menyamarkan pasi wajahnya. Seorang suster membantunya menyisir pelanpelan rambut lurusnya, dan mengikatnya sehingga leher jenjang itu terlihat,indah.

Setiap pagi juga,sekuntum mawar putih datang padanya. Seseorang dari sebuah florist mengantarkan bunga itu tiap pagi.Dan Mayang menyambutnya dengan senyum paling indah. Meletakkan mawar segar itu dalam vas bunga di meja kamarnya.  Membuang satu atau dua bunga yang tampak kering. Sesekali juga dia mengganti air dalam vas bunganya.Dan ini dia lakukan sendiri setiap pagi, tanpa bantuan suster jaga. Senandung lagu-lagu lirih berdesis dari bibirnya yang tipis saat dia melakukan itu semua. Hmm, Mayang masih bisa bernyanyi kecil di tengah deritanya. ***  

Aku meraih jas putih yang kusandarkan di kursi dan mengenakannya. Tanganku menyambar stetoskop di meja. Aku memang sedikit terlambat pagi ini. Sedangkan Rina, asistenku, sudah siap dari entah jam berapa.Aku bergegas menyusuri koridor rumah sakit. Mayang pasien pertamaku hari ini. Beberapa hal yang perlu kusiapkan sebelum proses pencucian darahnya. “Pagi, May… cerah sekali hari ini,” sapa Rina yang dengan cekatan merapikan tempat tidur Mayang. Merapikan seprei dan bantalnya.  Memungut buku-buku di sofa dan menyusunnya dalam sebuah tumpukan kecil.Buku-buku itu yang rupanya membantu Mayang membunuh waktunya. “Pagi Suster.Mayang boleh keluar jalan-jalan ga pagi ini. Sepertinya cerah di luar?”ujar Mayang memelas. Suaranya merdu,tapi sedikit gemetar. ”Lagi bosan dikamar ya May... Nanti sore aja jalan-jalannya.” “Iya. Lihat ini, kakinya sudah bengkak lagi. Hari ini jadwal rutin kamu kan?” sergah Rina.  Kuperhatikan kedua kaki Mayang memang sedikit bengkak. Dan itu disebabkan cairan yang membanjiri aliran darahnya dan membuat dia kesulitan bernafas. “Ugh!”Mayang mendengus, kesal. Dihempaskan tubuhnya di sofa, dan tangannya meraih sebuah buku, membolak-balik sebentar kemudian melemparkannya di ujung meja. 

     Nafasnya terlihat berat. Selama satu minggu secara intens mengamatinya, baru sekali ini kudengar dia mengeluh.  Wajahnya tiba-tiba berubah keruh dan masam.Hmm, seperti seorang anak kecil yang pulang dari bermain dan kesal karena baju bonekanya robek oleh teman. “Besok May.. janji deh!” kata Rina menghibur sembari menyodorkan kursi roda pada Mayang, dan gadis cantik itu tersenyum lega.Wajah masam itu seakan diterpa angin musim semi.Cerah.Cantik. *** 

   Itu Mayang. Melambaikan tangannya pada seorang perawat. Sudah jam sembilan pagi, dan bunga mawarnya belum datang.Pagi-pagi sebelumnya, buket bunga mawar putih itu diantar florist sekitar pukul delapan. Dan sudah satu jam Mayangmenunggu,ternyatatak satu pun pengantar bunga yang datang.  Mayang pasti bertanyatanya, demikian juga aku. Jika mawar putih itu tak datang sampaisiangini,kupastikanaku tak bisa menikmati senyum paling manisnya hari ini. “Suster, tak ada mawar untuk Mayang,hari ini?”tanyaku pada Anisa,suster yang hari ini menggantikan Rina merawat Mayang. “Entah Dok,sudah dua hari ini.” Hmm… kasihan Mayang. Buket bunga mawar itu yang memberinya semangat tiap hari. Sumber energinya untuk bisa tersenyum dan ceria, meski kadang kulihat senyumnya sedikit dipaksakan. ***  

Pengantar bunga datang pagi ini.Bunga yang sama,jumlah yang sama juga, sekuntum mawar putih.Hanya pengirimnya yang berbeda,dan Mayang tak tahu itu.Tak apa.Aku tak peduli dengan apa yang kulakukan. Aku hanya tak ingin melihatnya muram. Karena aku hanya ingin mengembalikan segaris tarikan bibirnya.Karena aku ingin melihat lecutan energi yang tersirat dari kilatan matanya.  Dan akhirnya senyum terindah Mayang dapat kunikmati lagi pagi ini, setelah satu minggu tak kulihat. Semangatnya, senyumnya, cerianya, itulah yang sedikit membuatnya lebih bertahan. Meskipun tanpa dukungan dari keluarganya, Mayang mampu menghadapi penyakit yang menurutku tak semua orang bisa melakukan seperti halnya gadis ini.Padahal menurut diagnosa, Mayang tak mungkin bisa bertahan lebih lama. ***  

“Mayang seneng Dok, hari ini mawar putihnya datang lagi. Seminggu kemarin…” Yah, seminggu kemarin mawar itu tak kunjung datang, dan seminggu itu juga Mayang jadi sangat pendiam,tak seperti biasa. Dan sekarang ini kulihat lagi… binar dan kilauan cahaya di matanya. “Siapa yang mengirim, May? Pacar ya…” Aku bertanya menyelidik.Tak bisa kupungkiri, aku berharap Mayang tak mengiyakan pertanyaanku kali ini.  Entah, aku tak ingin Mayang menjawab, kalau bunga itu dikirim pacarnya. Ah! Konyol! Tapi saat ini aku mungkin telah jatuh cinta pada seorang gadis penderita gagal ginjal stadium tiga ini. Dia tersenyum.Ah,senyum itu! “Dari saudara kembar Mayang, Dok.Namanya Radit. Dia kakak saya.” Hah! Leganya… Aku seperti baru saja meneguk segelas air es. “Aku tak pernah melihat dia,May?” Rasa ingin tahu memenuhi ruang pikirku.Aku memang baru dua bulan ditempatkan di rumah sakit ini.

  Dan selama itu juga tak sekalipun aku bertemu Radit, pengirim mawar putih itu.Yang kulihat, hanya sesekali seorang ibu cantik mengunjunginya. Bukan tidak mungkin juga Mayang berbohong mengenai keberadaan kakak kembarnya itu. Bukan tidak mungkin Mayang menyembunyikan sesuatu tentang pengirim mawar putih itu.  “Dia jarang ke sini,Dok.Dia sibuk.” Gamang.Darinadasuaranya kutahu Mayang sedang galau, dan itu pasti karena kakak kembarnya yang absen mengirimnya mawar putih seminggu kemarin.Hanya aku yang tahu bahwa memang Radit sudah tidak mengirim bunga lagi. “Ga apalah. Yang penting dia tetap memperhatikan kamu kan May. Buktinya mawar putih itu datang lagi pagi ini.” Mayang tersenyum.Getir. *** 


Setelah prosesi memisahkan cairan dari darah Mayang pagi ini,aku membawa dia berkeliling halaman belakang rumah sakit.Kondisi Mayang tak memungkinkan dia berjalan kaki.Aku membawakan kursi roda untuknya.Aku berharap udara segar dan sinar matahari bisa sedikit membuatnya senang. Sinar matahari menerpa wajahnya,membuat matanya mengerjap. Kuantar Mayang kembali ke kamarnya.  Dan kutinggalkan pulpen dan notes kosong di pangkuannya. “Saat kamu ingin menangis, kamu harus menangis May.Air mata tak harus selalu disembunyikan. Kalau kamu tak bisa membaginya dengan orang lain, mungkin kertas ini bisa menjadi teman kamu.” *** 

Hampir tengah malam aku baru bisa menghempaskan tubuh. Cukup penat dan melelahkan. Tapi ketika teringat sebuah kotak mungil yang diberikan Mayang tadi pagi, seakan letihku lenyap dan keinginanku membuka dan membongkar isi kotak itu.Beberapa lembar kertas telah berisi tulisan tangan Mayang.  Kunikmati lembar demi lembar,menjelajahi kata demi kata, dan aku tak ingin berhenti. Kisah kehidupan Mayang yang tumpah ruah di tiap lembarnya membuat aku ingin melalap habis semua. Hatiku bergidik.Jantungku berdegup kencang membaca huruf per huruf yang berbaris rapi memenuhi tiap-tiap lembarnya.  Kutelanjangi tiap kisahnya,tentang dirinya yang harus bersabar menghadapi rasa sesak yang rutin menghampiri dadanya, tentang rasa sakit yang merampok keceriaannya, tentang kakak kembar laki-lakinya yang dengan setia mengirim buket mawar putih untuknya tiap pagi meskipun Radit sendiri juga harus berjuang melawan rasa sakit yang tak kalah hebatnya dengan penderitaan Mayang, juga cerita tentang orang tuanya… dan untuk yang terakhir ini Mayang sepertinya sangat enggan bercerita.  

Ya Tuhan… tak ada satu pun senyum Mayang tergambar di sini. Dia menulis dengan air mata. Benar-benar menangis. Aku tak memahami mengapa dia enggan bercerita tentang kehidupannya. Apakah menurut Mayang, hidupnya tak cukup pantas untuk diceritakan. Dia menutupi semua penderitaannya dengan senyum, meski sebenar- benarnya Mayang sangat sulit untuk tersenyum.  Lembar Pertama Namaku Mayang. Dan aku penderita gagal ginjal stadium akhir. Kedua ginjalku sama sekali sudah tak berfungsi. Kugantungkan hidupku pada obat dan mesin pencuci darah. Entah sampai berapa lama aku mampu bertahan seperti ini. Bergumul dengan sesak, kencan dengan mesin, bercinta dengan obat, bermesraan dengan jarum dan pipa-pipa kecil. Dan aku seperti kehilangan energi tanpa mereka.

  Hidupku tak ayalnya seperti robot. Robot bisa berjalan, menggerakkan bagian-bagian tubuhnya karena baterai yang terpasang di punggungnya.Tanpa itu, robot hanyalah sekumpulan logam yang entah apa ada manfaatnya. Seperti itu juga aku.Tanpa obat dan mesin cuci darah, aku hanyalah seonggok daging yang ditopang tulang.Hh!  Lembar Kedua Demi apa pun di dunia ini,tak seorang pun yang ingin menjalani kehidupan seperti yang aku hadapi. Berbulan tinggal di gedung yang dipenuhi warna putih.Cat dindingnya,penghuninya. Sesungguhnya muak aku dengan butir-butir obat yang harus kutelan tiap hari.Sebenarbenarnya aku tak sanggup menahan sakit tiap kali melihat darahku keluar masuk sebuah mesin. Aku sudah lelah dengan jarum-jarum yang menembus kulitku.

Sejujurnya aku ngeri melihat berliter cairan yang harus dikeluarkan dari tubuhku. Siapa bilang Tuhan adil?  Keadilan yang seperti apa yang sedang kudapatkan? Aku tak pernah meminta jalan hidup yang seperti ini. Andaikan ini pilihan hidup dan aku diberi kesempatan untuk memilih,aku tak ragu untuk menolak jalan hidup seperti ini. Aku masih ingin berlari kencang, aku masih ingin tertawa lebar. 


Aku menguap. Kantuk menyerangku, tapi aku masih belum ingin berhenti.Tulisan Mayang menyeretku ke dapur untuk menuang secangkir kopi lagi,dan ini sudah cangkir yang kedua.  Lembar Ketiga Aku ingin lari, aku ingin pulang.Tapi ke mana? Apakah bangunan berpagar tinggi yang hanya berisi seorang Bi Atih dan seorang Pak Danang itu layak kusebut rumah? Kepada siapa aku harus pulang. Aku tak sanggup menatap keletihan batin ibu, derita ibu melihat aku dan Radit terkapar tak berdaya seperti ini.Aku tahu senyum ibu itu kebohongan. Aku tahu ketika dia mengatakan semua baik-baik saja, dan itu sama sekali tidak baik.Aku tahu seluruh darahnya adalah air mata.   

Aku tahu beratnya menanggung beban ini tanpa ayah. Ayah yang sama sekali tak kusesali kepergiannya, dan bahkan mungkin aku harus mensyukuri kehidupanku tanpa dia. Seseorang yang mencampakkan seorang istri dan kedua anaknya. Ini lembar terakhir. Lembar keempat Mawar Radit tidak datang, dan aku tahu itu artinya apa.  Aku tahu dia tidak sedang lupa untuk mengirimnya. Memang ada mawar lain yang datang tiap pagi. Tapi itu bukan dari dia. Karena Radit sudah pergi. Aku dan dia tahu bahwa ujung dari perjuangan kami adalah kematian. Aku dan Radit sama-sama sulit. Sama-sama menderita, sama-sama tercampakkan. ***  

Akhirnya, aku benar-benar kehilangan Mayang,kehilangan senyum Mayang. Karena mesin itu sudah tak mampu lagi menolongnya. Dokter juga bukan tukang sulap yang mampu membuatnya berlarilari dalam sehari setelah dua tahun bagai lumpuh. Suster hanya bisa terisak kecil menangisi sirnanya sedikit keakraban dan keceriaan yang menghiasi rumah sakit ini. Mawar putih yang kukirimkan tiap pagi juga tak berarti banyak, tak mampu mengembalikan senyum Mayang padaku.  Perjuangannya melawan rasa sesak karena cairan yang membanjiri pembuluh darahnya atau rutinitasnya setiap tiga hari sekali menikmati pemandangan berliter darahnya mengalir keluar masuk mesin pencuci darah berakhir pada air mata seisi rumah sakit.Mayang akhirnya pergi menyusul kakak kembarnya yang menderita leukemia akut. Mesin, selang, dan jarum itu tersudut di sana, tempat Mayang biasa menekuni rutinitasnya. 

Selamat jalan,May.Semua orang pasti punya akhir yang sama dengan kamu, hanya jalannya yang berbeda. Dan kamu lulus dengan sempurna melalui jalan yang dihadapkan padamu,meskipun itu teramat terjal, mendaki dan melelahkan buat kamu. ●  

(Sesungguhnya,cerita ini kupersembahkan untuk satu-satunya kakak laki-lakiku,mantan penderita gagal ginjal.Semoga ketabahannya mendapat hadiah surga dari Tuhan)  Biodata : WARICH AJJA, tulisannya dimuat di berbagai media massa.
 
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/439965/
Washilah 
 
“Washilah Online"
Di dalam tatanan negara maju, pers telah menjadi bagian yang sangat penting, karena pers memiliki kekuatan dan peranan strategis dalam mewarnai kehidupan ketatanegaraan. Pers berperan sebagai penyeimbang dan kontrol terhadap jalannya pemerintahan. Kekuatan inilah yang mengantarkan pers pada urutan keempat setelah eksekutif, legislatif dan yudikatif.
Oleh karenanya, agar kekuatan dan peran pers yang sangat besar itu tidak disalahartikan dan disalahtafsirkan, pers dituntut untuk menggunakan fungsinya dengan tepat, sesuai dengan standar jurnalisme yang benar. Pers juga harus memiliki peran penyeimbang agar tidak menjurus kearah trial by press.

Hari Sumpah Pemuda dengan Mengumpulkan Sampah


Jumat 28 Oktober 2011 | Mitasari
Aksi pungut sampah yang diadakan oleh jurusan Biologi Sains UIN

Washilah Online-Jurusan Biologi Sains, Fakultas Sains dan  Teknologi (FST) Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar mengadakan aksi memperingati hari sumpah pemuda , Jum’at (28/10/2011) di kampus II UIN Samata Gowa.



Aksi yang dilakukan mulai dari pukul 09.00 – 12.00 WITA berbeda dari aksi – aksi yang di lakukan mahasiswa lain dalam memperingati sumpah pemuda.

Aksi yang di lakukan dengan mengumpulkan sampah yang ada di sekitar kampus II UIN  mulai dari gedung Rektorat dan berpindah ke fakultas lain yang ada di UIN hingga Fakultas Sains dan Teknologi.

 Selama kegiatan aksi memungut sampah,  aksi tersebut juga dilakukan  pengumpulan dana untuk anak yatim dan pengumpulan tanda tangan sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan sesama.

 Acara terakhir ditutup dengan mengunjungi panti Wahyu Ilham di jalan Mustafa daeng bunga kecamatan Sombopu untuk penyalurkan bantuan yang telah terkumpul selama aksi berlangsung.

Fatmawati Nurhalik MSi , Ketua jurusan Biologi Sains sangat bangga terhadap ide aksi turun ke jalan membersihkan lingkungan UIN yang di ikuti dengan aksi social ke panti asuhan.

” Aksi tersebut dilaksanakan sebagai wujud eksistensi Mahasiswa biologi Sains yang berharap semua pemuda bisa menjaga lingkungan di mulai dari lingkunya sendiri,” ungkap ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Biologi Sains, Mukhlis Rahman.

Kamis, 27 Oktober 2011

Pixel Adakan Hunting di Candi Prambanan


Kamis, 27 Oktober 2011 | Suryani Musi
Candi Prambanan

Washilah Online-Komunitas fotografi universiats islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar  Pixel yang telah berdiri pada tahun 2010 trsebut adakan hunting foto di Candi Prambanan.

Menurut Hasyaf ketua Pixel memberikan pernyataan lewat via SMS bahwa hunting tersebut sementara berlangsung yang dimulai kemarin 26 Oktober sampai 28 Oktober 2011 dengan sepuluh peserta yang ikut.

“Kegiatan hunting ini merupakan program kerja dari divis fotografi Pixel. Hunting ini merupakan persiapan untuk pameran foto yang akan dilaksanakan pada saat lounching nanti,”kata pendidri Pixel tersebut.

Lounching tersebut mereka rencanakan akan terlaksana pada akhir bulan November 2011 nanti.

SB eSA Peringati Hari Sumpah Pemuda dengan Teatrikal


Kamis, 27 Oktober 2011 | Suryani Musi
Teatrikal eSA

Sumpah Pemuda Hari Ini
Pertama, Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku akan saling menumpahkan darah, saling membunuh dan saling menghujat, di tanah air Indonesia.
Kedua, kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku penguasa dan tak akan peduli akan bangsa sekalipun bangsa Indonesia.
Ketiga, kami Putra dan Putri Indonesia, menjunjung setinggi-tingginya bahasa perpisahan, bahasa kebohongan.


Washilah Online-Naskah di atas dibacakan oleh anggota yang menggelar aksi teatrikal  di depan gedung Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) tepatnya di jalanan.

Teatrikal ini diadakan oleh Unit Kegiatan Mahaisswa (UKM) Seni Budaya (SB) eSA Universiats Islam Negeri (UIN) Makassar, Kamis (27/10/2011). 

Naskah tersebut merupakan naskah yang diplesetkan dari isi sumpah pemuda yang telah ada sebelumnya.
Menurut Sarsil Martin, SB eSA hanya ingin memperingatkan kepada semua orang tentang kondisi kekinian yang sementara melanda bangsa Indonesia. Termasuk di perguruan tinggi.

“Bukti rill sekarang, kita semua telah diajari politik praktis mulai dari perguruan tinggi. Contohnya saja, pada pemilihan ketua Badan Eksekutif Mahasisw (BEM) dan himpuanan Mahaiswa Jurusan (HMJ). Mereka saling baku sikut, baku hantam untuk mendapatkan posisis tersebut. Terlebih lagi jika telah diperhadapkan pada kancah perpolitikan di negeri ini,” katanya.

Menurutnya lagi sekarang tidak ada lagi yang berdiri di atas kerangka benar salah melainkan hanya persoalan menang kalah.

“Pemuda dulu berebut untuk memperjuangkan kekuasaan Indonesia, sekarang justru sebaliknya. Pemuda sekarang hanya menikmati ahsil perjuangan bangsa kita sebelumnya di atas kepentingan pribadinya. Mereka hanya berpikiran untuk merebut kursi kekuasaan untuk dirinya,” tambahnya lagi.

Adapun yang terlibat di acara teatrikal ini, Sutradara adalah sarsil martin, Naskah adalah Sarsil Martin dan Adnan, penata musik adalah Afrianto Bustan, dan Tim produksi adalah Indra Mangguleta. Anggota teatrikal, adalah calon anggota SB eSA yang sementara mengikuti pencarian bakat minat 2011.



BEM Syariah Adakan Lomba Lari


Kamis, 27 Oktober 2011 | Suryani Musi
Lomba lari yang diadakan oleh BEM Syariah UIN

Wasilah Online-Badan Eksekutif Mahaisswa (BEM ) Fakultas Syariah  dan Hukum (FSH) adakan lomba lari. Lomba lari tersebut merupakan rangkaian kegiaatn porseni untuk memperingati hari jadi Fakultas Syariah Universiats Islam Negeri (UIN) Alaudin Makassar, Kamis (27/10/2011).

Lomba lari marathon tersebut mengambil rute star di depan fakultas Kesehatan, di depan Auditorium  belok ke depan gerbang II UIN Samata Gowa sampai  ke depan fakultas Kesehatan. Untuk perempuan dua kali putaan dan untuk laki-laki lima putaran.

Menurut koordinator lomba lari marathon, Jumain dari jurusan Ilmu Hukum,  kegiatan ini diikuti oleh semua jurusan yang ada di Syariah.

“Kami tidak batas untuk anggota lari marathon. Yang jelasnya siapa mau ikut, bisa gabung,”paparnya.

Dalam lomba ini yang meraih juara perempuan diraih oleh jurusan Akuntansi mulai dari juara I, II, dan III. Sementara juara dari lomba laki-laki, juara I dari jurusan Hukum Pidana dan Ketatanegaraan (HPK), juaran II dari Jurusan HPK, dan juara III dari jurusan Akuntasi.

Rabu, 26 Oktober 2011

Washilah Akan Adakan Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar XI

Rabu, 26 Oktober 2011 | Suryani Musi
Anggota UKM LIMA Washilah berfoto bersama
 
Washilah Online-Dalam rangka perekrutan anggota baru Unit Kegiatan Mahaaswaa (UKM) Lembaga Informatika Mahasiswa Alauddin (LIMA) Wahilah, akan adakan pelatihan jurnaistik tingkat dasar.

Kegiatan tersebut akan berlangsung mulai Jumat 28/10/2011 sampai 30/10/2011 di perpustakaan lama kampus I UIN Alauddin. Peeserta yang tersaring dari seratus lebih peserta yang mendaftar, hanya 64 yang diterima setelah melalui tahap seleksi berupa screening.

 Dari 64 peserta tersebut hanya 40 yang benar-benar lulus murni. Selebihnya lulus bersyarat yang terkendala pada persyaratan yang telah ditetapkan oleh tim steering.

“Dari yang terseleksi tersebut belum mutlak bisa dikategorikan sebagai anggota muda. Akan tetapi mereka harus magang selama empat bulan untuk meraih gelar anggota muda tersebut setelah dikukuhkan,” kata Andi tenriawaru selaku ketua panitia.

“Pelatihan ini tidak hanya diikuti oleh calon anggota muda UKM LIMA Washilah. Umum juga bisa mngikutinya. Sampai sekarang ini kami sudah menerima peserta umum dari kampus lain,” tambahnya.

Dalam pelatihan ini kan hadir pemateripemateri professional yang bergerak dalam bidang media cetak seperti dari harian Fajar, Tribun Timur, Sindo, dan Tempo. Pemateri yang bergerak dalam bidang online, dan juga fotografi, desain, dan broadcasting.

Egalitarinisme Islam dalam Pandangan Prof Usman

Rabu, 26 Oktober 2011 | Suryani Musi
Prof Usman

Washilah Online-Istilah egalitarianism masih sring salah diaphami atau mengandung pengertian yang kabur, meskipun terminologi tersebut begitu populer dan nampak disambut begitu hangat terutama dari kalangan yang meresa termarjinalkan oleh sistem sosial yang beragam. Hal tersebut dinyatakan oleh Prof Dr Usman M Ag ketika menyampaikan pidato pengukuhan guru besarnya di gedung Auditorium kampus II Samata Gowa kmarin, Selasa (25/10/2011).

Egalitarianisme dalam wacana pemikiran Islam mengandung perbedaan di kalangan intelektual Islam, baik dalam bidang ilmu Islam maupun dalam bidang ilmu politik ketatanegaraan.

“Sehingga  sulit untuk mendapakan pengertian yang dapat diterima atau disepakati semua pihak. Sebab secara natural manusi memang berbeda semisal perbedaan gender, usia, kekuatan, dan agama.  Berangkat  dari kenyataan ini, tidaklah salah untuk memilih satu pengertian egalitarianism yang memadai sebagai pijakan ilmiah dan metodologis yang mutlak diperlukan untuk melakukan sebuah pijakan dan analisis,”kata guru besar dalam hukum Islam ini.

Untuk memberi penegrtian butuh dua pendekatan yakni pendekatan ilmu keislamn dan pendekatan ilmu politik ketatanegaraan.
Dalam kajian keislaman, para intelektual Islam bahwa meskipun istilah egalitarian itu tidak berasal dari Islam karena konsep dan istilah terebut berasal dari Prancis yang muncul setelah terjadinya revolusi industri di negara tersebut yang menuntut persamaan hak-hak dari penindasan dan diskriminasi oleh penguasa yang otoriter . Namun, secara subtantif sebenarnya sejalan denagn ajaran-ajaran Islam. 

Pandanagan intelektual islam cenderung memahami egalitarianism sebagai kesetaaran di akhirat yang berimpilkasi pada kesetaraan sosial di dunia yakni penyamaan kemuliaan dengan ketakwaaan hanya berlaku pada kehidupan di akhirat dan penyamaan kehidupan sosial hanya berlaku di di dunia.

Sementara ahli politik ketatanegaraan modern cenderung memadang kesetaraan dari sudut fungsi sosialnya. Yakni bahwa misi kehadiran manusi di muka bumi ini sebagi khalifah atau penguasa dan pengelolaan bumi.
Menurutnya, jika dikaji lebih mendalam, pada hakikatnya kedua pendekatan ini tidak saling bertentangan. Melainkan saling melengkapi khususnya egalitarian dipahami sebagai kesamaan hak-hak politik manusi dalam kapasistasnya dalam pengelolan kehidupan bersama.

Selasa, 25 Oktober 2011

UIN Lantik Dua Guru Besar


Selasa, 25 Oktober 2011 | Suryani Musi
Pelantikan dua guru besar UIN Alauddin Makassar

Washilah Online-Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar kembali mencetak dua guru besar hari ini, Selasa (25/10/2011). Guru besar tersebut dikukuhkan dalam bentuk rapat senat luar biasa. Keduanya adalah Prof Dr H Ali Parman dengan Prof Dr Usman M Ag.

Prof Ali Parman membahas tentang Kemoderatan dalam Hukum Islam, telaah terhadap implementasi ibadah-ibdah muamalah yang bercorak matematis. 

Sedangkan Prof Dr Usman M Ag membahas tenatng Egalitarianisme dalam Islam sebagai Refleksi Pemikiran atas Hak-hak Politik Minoritas nonmuslim di tegah-tengah mayoritas muslim. Keduanya dikukuhkan sebagai guru besar dalam bidang hukum Islam.

“Nilai kehadiran seorang guru besar atau professor semakin kuat. Ada sebuah analogi bahwa jika dalam tradisi bisnis dikenal istilah teknis trendemark untuk sebuah produk berkualitas tinggi dan unggul maka dalam kultur pemikiran dan keilmuan dikenal sebagi istilah hallmark yang dinisbahkan kepada manusia-manusia tercerahkan yang punya produk pemikiran dan tradisi intelektual cemerlang. Tak terlebih agaknya, jika professor adalah hallmark dalam sebuah perguruan tinggi,” kata Rektor UIN, Prof Dr Qadir Gassing HT MS.

Melongok Kultur Komunitas Kampus Tanpa Bos


Selasa, 25 Oktober 2011 | Suryani Musi
Rektor UIN Alauddin Makassar

Washilah Online-Belakangan ini muncul sebuah gejala baru yang disebut kultur Komunitas kampus tanpa bos dalam dunia akademik. Hal tersebut disampaikan oleh Rektor Universitas Islam Negeri (UIN)Alauddin Makasssar, Prof Dr Qadir Gassing HT MS ketika memberi sambutan pada pengukuhan guru besar di kampus II Samata Gowa, Selasa (25/10/2011).

Menurut Rektor, gejala ini ditandai dengan munculnya laboratoria, perpustakaan, situs internet yang tidak mengikuti jam kantor dan sellu dipenuhi pengunjung sampai dini hari. 

“Bukan kah ini adalah kultur akademik yang wajar dan patut? Inilah salah satu laboratoria tentang kampus tanpa bos,” katanya.

Tanpa kehadiran bos sekalipun, civitas kademika bergerak kreatif mencari pengetahuan dan mengasah keterampilan. Komunitas kampus tanpa bos tesebut merupakan ciri dari lembaga perguruan tinggi yang berhasil dan berprestise.

 Komunitas dan civitas inilah yang akna mengembangkan kultur saling menghormati dengan kriteria utama keunggulan sebagai ilmuan.

“Tetapi jangan salah paham. Jangan menganggap bahwa kultur dan komunitas tanpa bos sama artinya dengan tidak memerlukan denagn demikian perlu ada pemimpin. Seorang bos yang berkarakter pemimpin malah diperlukan karena pada suatu waktu dan tempat, keputusan perlu dimbil. Dalam konsep komunitas kampus tanpa bos, sang bos yang memimpin adalah sosok yang kreatif dan produktif dalam berperan sebagi pengayom, mitra, dan fasilitator bagi seluruh civiats akademika, agar semua orang yang berada di bawah kepemimpinan dapat mengembangkan secara produktif talenta yang melekat atau yang masih terpendam dalam dirinya,” tambahnya.

PD 3 FIKES: Bertanding Untuk Kebersamaan, Bukan Untuk Juara


 Senin, 24 September 2011 | Ahmad M Qomar
Pertandingan sepak bola yang diadakan oleh Farmasi


Washilah Online-Kesehatan adalah salah satu karunia terpenting yang diberikan Allah pada kita, sehingga kita sebagai hamba-Nya mesti pintar-pintar menjaga karunia tersebut. Terlebih di saat kondisi dan cuaca lingkungan yang kurang mendukung seperti sekarang ini.

Beranjak dari pemikiran akan pentingnya menjaga kesehatan, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Farmasi Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin kembali mengadakan Pharmacy Event, berupa pekan ajang olahraga dan seni.

Kegiatan dibuka pada Senin (24/10) sore oleh Drs. Supardin, M.HI, PD III Fak. Ilmu Kesehatan dengan disaksikan seantero mahasiswa Farmasi di lapangan bola kampus II. Meski cuaca mendung tapi hal itu tak jua menyurutkan semangat peserta untuk menyaksikan seluruh prosesi acara.

Muh. Akmal A. S., ketua BEM Fakultas Ilmu Kesehatan di saat membawakan sambutan mengharapakan pada seluruh peserta bahwa kegiatan Farmasi Event ini agar tidak akan mengganggu kegiatan akademik. Hal senada juga diungkapkan oleh Supardin.

“Waktu pelaksaanaan kegiatan sore hari, jadi bukan beban saat kuliah. Maka bertandinglah untuk kebersamaan, bukan untuk meraih gelar juara,” tandasnya.

Pharmacy Event tahun ini adalah kali kelima diselenggarakan dan merupakan kegiatan tahunan HMJ Farmasi, di mana ajang yang diperlombakan antara lain sepak bola, voli, takraw, basket, badminton, tarik tambang, motor lambat, tilawatil qur’an, puisi, farmasi idol, video lipsing, dan putra-putri farmasi.

Tema yang diusung panitia yakni Competing Together with Spirit of Champion dan dengan maskot pilihan yakni Kuda. Di mana tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menjalin kekerabatan antar mahasiswa Farmasi.
“Pharmacy Event juga bertujuan untuk melatih fisik melalui olahraga sebelum menghadapi kesibukan kita dalam praktikum nantinya,” ungkap Aswandi, selaku ketua panitia.

Mewakili jurusan Farmasi, Muh. Fitrah berharap kegiatan ini dapat memberikan efek positif bagi semua pihak yang terlibat di dalamnya. “Juga semoga ada pembelajaran dalam setiap pertandingan yang dilewati,” harapnya.

Senin, 24 Oktober 2011

Ini Makassar Kami

Andi Tenriawaru
   Tumbuh dan berkembang di tanah yang telah menjelma jadi pusat pertumbuhan di Kawasan Indonesia Timur merupakan pengalaman yang sangat menarik. Bertemu dengan aneka agama, suku, etnis, kebudayaan, ideologi, dan hal sensitif lainnya tak membuat masyarakat di kota Anging Mammiri’ ini menjadi eksklusif satu sama lain. Saya sendiri adalah perpaduan dua suku paling dominan di Provinsi Sulawesi Selatan. Ettaku (baca: Ayah) merupakan keturunan suku Bugis tulen khususnya Bone dan Mamakku (baca: Ibu) lahir dan bertumbuh di keluarga yang bersuku Makassar. Dalam kesehariannya ada perbedaan yang cukup mencolok terutama dalam mengekspresikan diri, masyarakat Bone biasanya lebih mampu menahan ekspresi dan bertutur teratur, sedangkan masyarakat Makassar lebih outspoken atau gamblang dalam menyatakan sesuatu. Ini hanyalah sebagian kecil dari berbagai keanekaragaman di kota Makassar.
Hal diatas berbicara pada ruang lingkup kultural sedangkan secara geografis kota ini merupakan daerah pantai yang datar dengan kemiringan 0 - 5 derajat ke arah barat, diapit dua muara sungai yakni sungai Tallo yang bermuara di bagian utara kota dan sungai Je’ne’berang yang bermuara di selatan kota. Luas wilayah kota Makassar seluruhnya berjumlah kurang lebih 175,77 Km2 daratan dan termasuk 11 pulau di selat Makassar ditambah luas wilayah perairan kurang lebih 100 Km². Wilayah kota Makassar berada pada titik koordinat 119 derajat bujur timur dan 5,8 derajat lintang selatan dengan ketinggian yang bervariasi antara 1-25 meter dari permukaan laut. Dengan kata lain, Kota Makassar mempunyai posisi strategis karena berada di persimpangan jalur lalu lintas dari arah selatan dan utara dalam propinsi di Sulawesi, dari wilayah kawasan Barat ke wilayah kawasan Timur Indonesia dan dari wilayah utara ke wilayah selatan Indonesia.[1]
Dari gambaran selintas mengenai lokasi dan kondisi geografis Makassar, memberi penjelasan bahwa secara geografis, kota Makassar memang sangat strategis dilihat dari sisi kepentingan ekonomi maupun politik. Dari sisi ekonomi, Makassar menjadi simpul jasa distribusi yang tentunya akan lebih efisien dibandingkan daerah lain. Memang selama ini kebijakan makro pemerintah yang seolah-olah menjadikan Surabaya sebagai home base pengelolaan produk-produk draftkawasan Timur Indonesia, membuat Makassar kurang dikembangkan secara optimal. Padahal dengan mengembangkan Makassar, otomatis akan sangat berpengaruh terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat di kawasan Timur Indonesia dan percepatan pembangunan. Dengan demikian, dilihat dari sisi letak dan kondisi geografis, Makassar memiliki keunggulan komparatif dibanding wilayah lain di kawasan Timur Indonesia. Saat ini Kota Makassar dijadikan inti pengembangan wilayah terpadu Mamminasata.
Saat ini Makassar adalah kota terpenting, tidak hanya di Sulawesi Selatan, melainkan juga di Indonesia dan bahkan dunia. Ada dua alasan utama yang sering dikemukakan para ahli dalam menempatkan Kota Makassar sebagai kota yang penting. Pertama, sebagaimana ditunjukkan dalam kajian-kajian sejarah bahwa di masa lalu kota ini memainkan peran besar, baik dalam dinamika sosial maupun dalam aktivitas perdagangan (ekonomi). Pada abad ke 16-17 keberadaan Makassar disejajarkan dengan Penang di Malaysia yang merupakan pusat perdagangan Asia Selatan, dan kota Hamburg di Jerman yang merupakan pusat perdagangan di Eropa ketika itu. Dalam dinamika sosial-politik, pada awal bad ke-17, kota ini menjadi kerajaan Gowa, sebuah kerajaan besar yang kekuasaan dan pengaruh politik yang luas di jazirah selatan Sulawesi Selatan.
Demikian pula dalam sektor ekonomi melalui pelabuhan Makassar, kota ini berperan sebagai kota niaga terpenting di bagian timur Indonesia. Kota ini hanya menjadi satu mata rantai perdagangan regional yang melakukan kontak dengan kota-kota penting di Eropa, tetapi juga menyediakan pasar bagi perdagangan hasil bumi Hingga pada awal abad ke-20, setelah ekspedisi Belanda tahun 1905, Makassar telah berkembang pesat sebagai kota modern. Kedua, semenjak kemerdekaan bangsa Indonesia tahun 1945, Makassar menjadi kota penting, di mana keberadaan pelabuhan Makassar berperan sebagai ruang tamu Kawasan Timur Indonesia (KTI), menjadi pusat aktivitas ekonomi, pemerintahan dan pendidikan.
Makassar semakin mengalami perkembangan yang pesat dan telah menjelma menjadi kota metropolis, yang dapat disejajarkan dengan beberapa kota-kota besar di Pulau Jawa. Tentu saja, kemajuan yang telah dicapai, baik dalam pembangunan infrastruktur maupun aktivitas ekonomi, sosial, politik dan pemerintahan, serta pendidikan tidak lepas dari keinginan yang kuat dari warga kota ini untuk berubah. Kesuksesan ini juga didukung oleh kapasitas sumber daya manusia dan kerja keras pemerintah setempat.
Pemerintah sedang menyiapkan suatu landasan hukum Investasi yang akan menyertakan prinsip kebijakan investasi yang berorientasi pasar, menetapkan jaminan atas perlakuan yang sama bagi investor asing maupun dalam negeri dimanapun dan kapanpun, perlindungan atas pengambilalihan investasi. Kebebasan pengambalian investasi asing dan penggajian yang layak yang sesuai standar internasional. Tipe kepemimpinan yang diterima oleh masyarakat kota Makassar masih sarat dengan sukuisme, selama ini para pemimpin yang terpilih merupakan sosok bugis-makassar yang tergambar ramah dan tegas. Hal itulah yang mewarnai proses memimpin mereka yang mengutamakan budaya siri’ na pace yakni suatu harga diri yang dipegang mati terutama ketika menjabat suatu posisi penting. Kesiapan untuk diprotes secara langsung dan gamblang adalah harga mutalak bagi para pemimpin dalam menghadapi masyarakat majemuk yang berpemikiran terbuka.[2]
Setelah berkutat dengan kondisi geografis, suku budaya, perekonomian, dan pemerintahan maka sekarang kita beralih pada pemuda. Bertumbuh di pusat modernitas Kawasan Indonesia Timur bukan hanya memperluas akses informasi namun hal ini membuka cakrawala berpikir kritis untuk menyatakan pendapat secara terbuka. Pribadi yang terkenal keras dan berprinsip tak jarang membuat mahasiswa asal Makassar dicap ”menakutkan” oleh penduduk luar Makassar. Kelengkapan sarana hiburan juga memberi dampak positif-negatif. Di satu sisi merupakan penyemangat dari kepadatan rutinitas namun disisi lain juga dapat menjadi candu bagi para pemuda.
Diluar hal tersebut kota Makassar tetaplah menghadirkan sensasi berbeda di Indonesia khususnya Bagian Timur. Keberanian para masyarakatnya dalam bertindak dan berucap terpatri di benak seluruh masyarakat Indonesia. Hidup Makassar!! Tanpa kasar bisa, kan?

[1]“Geografis Makassar”, Pemerintah Kota Makassar, diakses dari http://bahasa.makassarkota.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=85, pada tanggal 25 Oktober 2011 pukul 23 : 26
[2]“Investasi dan Penanaman Modal”, Pemerintah Kota Makassar, diakses dari http://bahasa.makassarkota.go.id/index.php/component/content/article/85-tentang-makassar/70-investasi-dan-penanaman-modal, pada tanggal 25 Oktober 2011 pukul 23:24