Breaking News

laporan utama

Sabtu, 24 Juli 2010

Program Pembinaan Maba Berganti Lagi?


Rangkaian ujian masuk Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin telah terlaksana. Tahun ini, Mahasiswa Baru (Maba) UIN mencapai ribuan. Membicarakan mahasiswa yang bertambah, tentu terkait dengan mekanisme pembinaan mahasiswa baru. Di kampus hijau ini, telah tercatat beberapa perubahan sistem penerimaan maba dari tahun ke tahun. Perubahan sistem terus dilakukan karena dinilai kurang berhasil.

Tahun 2005, adalah terakhir kalinya kampus memberlakukan PIKIR (Pencerahan Kampus IAIN Rabbani). Sistem ini dihentikan karena dinilai penuh dengan praktek-praktek kekerasan. Tahun 2006 dan 2007, Maba bisa dikata “merdeka”. Sistem penerimaan hanya dihelat dengan kuliah umum selama satu hari. Tahun 2008 dan 2009, Maba kembali tegang dengan hadirnya OPAK (Orientasi Pengenalan Akademik) yang dilaksanakan tiga hari, yang aturan mainnya tidak boleh ada kekerasan dan praktek perpeloncoan sama sekali, dinilai para birokrat masih jauh dari yang diharapkan. Pada awal diberlakukannya, OPAK sebetulnya berjalan dengan baik, namun pada pelaksanaan selanjutnya, terjadi praktek kekerasan dan perpeloncoan terselubung di beberapa fakultas. Ini Dikatakan Pembantu Rektor III, Dr. Salehuddin Yasin MA, tahun lalu.
Di tahun ajaran 2010 ini, proses pembinaan mahasiswa lagi lagi berganti. Namanya adalah, Pengenalan Akademik dan Almamater. Program ini dirumuskan dengan mengacu pada UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 60 tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi.
Banyak yang berubah dalam pedoman pembinaan mahasiswa baru tersebut. Salah satu contohya pada bab V Pengenalan Akademik dan Almamater. Program pembinaan mahasiswa baru ini diberi wawasan dasar tentang proses pembelajaran, dan pengenalan almamaternya agar tertanam jiwa ke-UIN-an pada setiap mahasiswa. Berbeda dengan OPAK tahun lalu, Pengenalan Akademik dan Almamater ini dilaksanakan hanya sehari saja dimulai jam 07.30 sampai17.30 dan pola pelaksanaannya pun memadukan panitia unsur Universitas, Fakultas, Jurusan, Dosen dan Pengurus-Pengurus Lembaga Intra Kemahasiswaan (BEM-U, UKM, BEM-F dan HMJ).
Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Syariah dan Hukum, Awaluddin, menilai aturan itu tidak efektif. “Sangat tidak efektif jika pengenalan akademik dan almamater ini dilaksanakan hanya sehari saja, karena OPAK yang dilaksanakan selama 3 saja tidak terlalu efektif apa tak lagi jika hanya dalam sehari,” pada pelaksanaan Sosialisasi aturan baru tersebut, Rabu, 21 juli 2010 di ruangan Dekan Fakultas Syariah dan Hukum. Awaluddin menambahkan, jika aturan baru tersebut merampas hak progeratif BEM yang merupakan lembaga intra kampus, dan menurutnya lebih berwenang.
Sementara itu, Pembantu Dekan I Fakultas Syariah dan Hukum Muh. Sabri AR mengatakan, “memang pelaksanaan Pengenalan akademik dan almamater ini hanya sehari namun pihak universitas berupaya memaksimalkannya. Bukan hanya Pengenalan Akademik dan Almamater saja, akan tetapi masih ada follow-up yang akan diselenggarakan pihak universitas yaitu karantina mahasiswa baru selama dua bulan, dimana seluruh elemen kampus yamg menjadi pelakonnya”, tambah PD I Fakultas Syariah. “Sebenarnya konsep yang kita miliki sedang diuji di sini. BEM harus merancang seperti apa konsep untuk dua bulan tersebut. Jangan sampai kita sibuk mempertahankan (OPAK) yang tiga hari, sementara yang dua bulan kita kehabisan konsep, dan kewalahan untuk mengurusnya. Jika karantina ini bisa dilaksanakan dengan baik, maka UIN akan semakin maju”, tuturnya serius.
Saat ini UIN Alauddin Makassar tengah berusaha untuk meningkatkan kualitas pendidikannya, salah satunya yaitu melakukan karantina kepada mahasiswa baru yang bertujuan untuk menerapkan nilai-nilai Islam dan peningkatan moral kepada seluruh civitas akademik UIN Alauddin Makassar. (Agus)

Tolak TDL, BEM Universitas Audiens Dengan Legislatif

Sejumlah mahasiswa, yang terhimpun dari berbagai organisasi mahasiswa Intra kampus melakukan audiens dengan anggota legislatif, terkait dengan kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL), kamis 15 juli lalu. 

Mereka antara lain perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UIN Alauddin, UNM, STIMIK Dipanegara, UNCOK, Universitas 45, UMI, Unismuh, YPUP, STIEM Bonyaya. Anggota DPRD Sulsel dari Fraksi Partai Golkar, Aji Pajundan, dalam diskusi tersebut mengatakan, jauh sebelumnya persoalan kenaikan TDL sudah disampaikan kepada pemerintah pusat. Ia menambahkan, bahwa dirinya, bersama beberapa anggota dewan lainnya ikut mendukung aspirasi mahasiswa yang menolak kebijakan pemerintah tersebut. Menurutnya, kenaikan TDL bagi pengguna listrik di atas 900 wat, akan berimplikasi pada meningkatnya angka PHK di berbagai industri. ”Efeknya bisa ke pengusaha, yang berdampak pelik,” ungkapnya. Jika biaya listrik mahal, dan itu membuat pengusaha rugi, tentu salah satu langkah yang diambil adalah mengurangi pekerja. Aji Pajundan menyesalkan tindakan pemerintah pusat yang memberi kebijakan, tanpa mengkomunikasikan kebijakan tersebut kepada pemerintah daerah, dan legislatif. Namun menurutnya, kebijakan tersebut sebenarnya masih lebih baik, bila dibandingkan pemerintah menswastakan PLN. Jika pemerintah menswastakan PLN (lepas tangan), maka biayanya tentu semakin meningkat, karena PLN akan semena-mena menaikkan tarifnya, tanpa ada kontrol pemerintah.
Selain Aji Pajundan, legislator lain yang juga hadir adalah Buhari Kahar Muzakkar, dari Fraksi Partai PAN. Buhari menjelaskan jika kenaikan TDL sebetulnya kebijakan pemerintah pusat, dan sudah diputuskan. Namun Ia menambahkan, bahwa aspirasi mahasiswa tersebut akan di-phats, untuk menjadi salah satu bahan yang akan diajukan ke pemerintah pusat.
Diskusi mahasiswa dengan anggota DPR tersebut dilaksanakan di ruang Lobi Kantor DPR Sulsel di jalan Urip Sumoharjo. Aji Pajundan dan Buhari bersedia menerima dan melakukan audiens setelah mahasiswa menggelar orasi di depan kantornya. Sebelumnya, mahasiswa melakukan aksi demonstrasi di depan kantor PLN Sulselrabar, di jalan Hertasning. Mereka bersikeras menemui General Manager PLN Sulselrabar, dan melakukan audiens. Namun, usaha tersebut gagal, karena yang bersangkutan sedang di luar kota. (abie)

Prof. Dr. Hj. Andi Rasdiyanah



Menangis Untuk Pertama Kali
Di usianya yang senja, 75 tahun 5 bulan lebih, Perempuan yang pernah menjabat Rektor IAIN Alauddin ini mengaku terharu, saat buku biografi tentang dirinya diluncurkan, kamis, 22 Juli lalu, di lantai 4 gedung rektorat UIN Alauddin. Buku tersebut berjudul, Refleksi 75 Tahun Prof Dr Hj Andi Rasdiyanah; Meneguhkan Eksistensi Alauddin. Penyusunnya adalah, salah seorang penggagas berdirinya koran kampus Washilah di tahun 1987, Waspada Santing. Selain Waspada Santing, penyusun lain yang ikut membantu antara lain, Dr. Mohd Sabri AR, Drs. H. Muhammad Ansar Ilyas, Drs. H Muh. Natsir Siola,M.Ag, dan Anwar Sadat, S.Ag.,M.Ag. Buku ini memuat 33 tulisan tentang Prof Rasdiyanah dari berbagai praktisi, penulis, dan akademisi UIN, yang telah banyak mendapat pelajaran dan kesan darinya. Kebanyakan dari mereka adalah murid perempuan yang telah menelorkan banyak akademisi ini. Dalam pemaparan materinya sebagai keynote speaker, Prof Rasdiyanah sempat menitikkan air mata haru, dan berterima kasih atas penghargaan yang telah diberikan oleh banyak muridnya. ”Untuk pertama kalinya, saya melihat Ibu Rasdiyanah menangis. Dan sebagai sejarawan, ini akan tertulis dalam sejarah,” sahut Prof. Dr. Ahmad Sewang, moderator dalam peluncuran buku tersebut.

Prof. Dr. Azhar Arsyad, MA


”The Unseen Wind”
Sejarah lahirnya IAIN Alauddin, yang kemudian berubah menjadi UIN Alauddin, tentu tak lepas dari peran para penggagasnya. Namun Rektor UIN Alauddin, Prof. Dr. Azhar Arsyad mengakui bila masih ada tokoh yang berperan, namun ”tak tercatat”. Mereka antara lain adalah Mantan Sekjen Departemen Agama, Drs. Marwan Saridjo, dan Mantan Gubernur Sulawesi Selatan, Prof.Dr.Ir.H.Ahmad Amiruddin. Mereka kebetulan hadir dalam peluncuran buku berjudul: Refleksi 75 Tahun Prof Dr Hj Andi Rasdiyanah, di gedung Rektorat lantai 4, kamis 22 Juli lalu. Prof Azhar Arsyad menyebutnya The Unseen Wind, dalam sebuah sambutannya. ”Mereka adalah Angin yang tak terlihat, yang mendorong kapal, sehingga lahirlah UIN Alauddin. Saya akui, jika beliau ini tidak tertulis dalam buku-buku saya,” ungkapnya.

Selasa, 13 Juli 2010

WC Wanita


Kondisi WC wanita di Rektorat lantai 2. Kondisi WC yang kurang menyenangkan ini juga mencuat dalam Penyampaian Visi Misi Calon Rektor UIN pada 21 Juni kemarin, di Lantai 4 Gedung Rektorat. Permasalahan ini berulang-kali disampaikan oleh kandidat nomor 3, Dr. Hj. Nurnaningsih. Gambar diabadikan pada 08 Juni 2010