Breaking News

laporan utama

Selasa, 28 Juni 2011

PPs UIN Buka Pendaftaran Sampai 23 Juli

laporan | Suryani Musi

Washilah Online-Program Pascasarjana (PPs) Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar mulai membuka pendaftaran program studi S2 dan S3 sejak 06/06/2011 lalu sampai 23/07/2011.

“Ujian masuknya tanggal 06 Juni sampai tanggal 23 Juli 2011. Bagi yang mau mendaftar bisa datang ke skretariat Program Pascasarjan UIN Alauddin Kampus I,” kata Amir Mahmud S Ag selaku tata Usaha PPs.

Persyaratan akedemik:
Adapun syarat-syaratnya yakni memiliki ijazah Si di perguruan tinggi agama Islam atau perguruan tinggi setara lainnya dengan persyaratan IPK minimal 3.00. dosen dengan rekomendasi dari perguruan tinggi tempat mengajar tidak diisyaratkan ketentuan IPK untuk program S2.

Memiliki ijazah S2 perguruan Tinggi Agama Islam atau Perguruan Tinggi lainnya dengan syarat IPK 75 (3.00) dan nilai tesis minimal baik (3.00) untuk program S3 ijazah S2 dari perguruan tinggi umuj dapat diterima dengan syarat lulus ujian masuk dan mengambil mata kuliah tertentu pada program S2 yang ditapkan oleh PPs UIN Alauddin Makassar.

Rekomendasi dari dua orang dosen senior yang mengenal kamampuan dan prestasi akademik pendaftar.

Menyerahkan proposal penelitian sesuai dengan bidang ilmu yang diminatinbya sebanyak dua eksemplar.

Persyaratan Administrasi:
- Mengisi formulir pendaftaran
- Menyerahkan salinan atau fotokopi ijazah dan trakskrip nilai jejjang pendidikan terakhir yang telah dilegalisir.
- Paas foto berwarna ukuran 2x3 dan 3x4 masing-masing dua lembar ( satu lembar ukuran 3x4 ditempel pada formulir pendaftaran).
- Menyerahkan surat izin belajar dari instansi tempat bekerja bagi pendaftar uyamg bekerja.
- Membayar uang pendaftaran.
• Program magister sebesar 350 ribu rupiah.
• Program doctor sebesar 500 ribu rupiah.

Muhtar Yunus Sebagai Ahlul Jannah

Laporan | Suryani Musi

Washilah Online- Disertasi yang diajukan oleh H Muhtar Yunus dengan judul Al-Jannah Perspektif Al-Qur’an (Sebuah Kajian Tafsir dengan Metode Tematik). Acara ini digelar di gedung Program Pasca Sarjana (PPs) Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Selasa (28/06/2011) malam.

Promosi doktor ini promotori oleh Prof Dr Hj Andi Rasdiyanah, Prof Dr H Muhammad Galib M MA. CO promotor adalah Dr H Mustamin M Arsyad MA. Dewan penguji adalah Prof Dr H Abd Muin Salim MA, Prof Dr Moch Qassim Mattar MA, dan H Zulfahmi Alwi M Ag PH D.

Secara garis besar disertasi ini menggambarkan bahwa Al-Qur’an meliputi informasi yang nyata dan alam gaib, dalam disertasinya penulis fokus pada pembahasan seputaran alam gaib. Salah satu pembahasannya alam gaiba adalah al-jannah. Al-jannah dalam al-Quran sangat jelas pengembaraannya, namun sampai saat ini tetap diperselisihkan oleh ulama atau cendikiawan dan aliran-aliran dalam Islam seputar eksistensinya.

Pendapat-pendapat seputar al-jannah di antaranya ada yang mengatakan bahwa al-jannah sudah ada saat sekarang dan ada pula yang mengatakan bahwa ia sampai saat ini belum ada, dan akan diadakan sesudah kiamat karena kalau diadakan saat sekarang akan hancur bersama hancurnya alam dunia. Ada yang berpendapat bahwa tidak ada lagi kehidupan sesudah kehidupan dunia.

Metode-metode yang digunakan dalam pendekatan-pendekatan yakni metode yang akan diterapkan penulis adalah metode semantik, teologi, filosofi, sains, dan tasawuf serta pendekatan-pendekatan lainnya yang relevan.

"Untuk menerapkan metode tersebut maka akan dilakukan pengumpulan ayat-ayat al-Qur’an dengan berdasar pada tema yang telah ditentukn, yakni al-Jannah dengan term-term yang sepadan dengannnya. Ayat-ayat Al-Qur’an yang berkenaan dengan al-jannah dianalisis melalui metode dan pendekatan yang disebutkan dia atas.
Setelah diadakn penelitian, pengungkapan al-jannah dalam Al-Qur’an dapat disimpulkan bahwa Al-jannah mengandung banyak pengertian di antaranya adalah jannah yang telah ada sebelum akhirat dan akan ada pada hari al-akhirat. Al-jannah yang telah ada sebelum hari al-akhirat adalah al-jannah yang telah ditempai nabi Adam as dan istrinya Hawa dan jannah al-ma’wa yang sedang ditempati roh-roh orang mu’min untuk menanti datangnya hari kebangkitan. Sementara al-jannah yang akan ada pada hari al-akhirat adalah jannah al-ma’wah yang akan ditransfer ke hari al-akhirat karena jannah al-ma’wah yang ada di sekitarnya tidak ikut hancur saat itu disebabkan adanya delapan malaikat menahannya. Menurut penulis itulah yang dimaksud kekekalan al-jannah," kata Muhtar Yunus ketika mempertahankan isi disertasinya di depan para dewan penguji.

H Muhlis berhasil lulus dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,5 (A-) dengan lama penddikan enam tahun delapan bulan 27 hari.

Senin, 27 Juni 2011

Kota Tanpa Nafas

Karya Ahmad Qomar


Asa dan cita menjadi modal awal
Mengiringi setiap serap langkah kaki
Membasuh setiap tetes peluh yang jatuh
Dan merangkai senyum di wajah
Demi menyambut masa depan yang cerah
Menuntut ilmu di kota
Meninggalkan keluarga di desa
Dan semua kesenangan di masa muda

Cahaya gempita membentang sepanjang jalan
Menuntun langkah mengenyam pendidikan
Besar sudah dipupuknya harapan
Menimba ilmu di kota tujuan
Lalu pulang ke desa untuk membawa perubahan

Baru saja bunga itu akan bermekar
Menyambut butir-butir hujan yang menyambar
Serta cerahnya mentari yang bersinar
Seketika ditutup langit hitam terbakar
Bersamaan dengan hilangnya asa yang berpendar

Begitulah ruam mengantar pada luka
Seperti lantunan syair yang menggambarkan duka
Tanpa hembusan nafas di balik dedaunan tua
Dengan barisan gedung tak bermakna
Karena kota yang ditujunya untuk menuntut ilmu
Sangat sarat akan musslihat tipu
Dipoles apik ideologi liberalisasi yang buntu
Mematikan kinerja manusianya yang tak maju-maju

Sungguh pendidikan hanya menjadi ladang uang
Oleh mereka yang mengaku penggerak pemerintahan
Mencukur habis hingga pada setiap sekat ruang
Yang menjadi tempat sisa perjuangan pendidikan
Bagi mereka masih mengharap cerahnya masa depan

Sementara pendidikan kian dipenuhi muslihat
Dijalankannya tirani dari orang-orang tidak tepat
Jauh menenggelamkan kota itu dalam gelap nan pekat
Kota tanpa nafas tapi berkembang pesat
Dengan orang-orangnya yang selalu berkehendak jahat

Nafas menjadi berat seiring langkah melambat
Asap polusi yang pekat terbang tak tercegat
Lamat-lamat, pudar namun tetap terlihat
Bila sumbernya kau sumbat, kau akan dicap penjahat
Pendidikan ini sarat pergumulan, ideologi politik yang menyesatkan
Munculnya konsep otonomi pendidikan dan semakin berkembang
Tiada lagi menyisakan ruang demi secuil ilmu pengetahuan
Karena kecerdasan bangsa digadaikan untuk selembaran uang

Doa Seorang Walad

Karya Ahmad M Qamar


Tiada henti doa itu dipanjatkan
Demi seorang ustadz Abi
Meski tanpa tali lahiriah

Walad hanyalah seorang tholib
Berguru pada sang ustadz
Namun doanya setara anak itu

Sedang ustadz tiada bernasab
Doa seorang Walad-lah dia harap
Jadi bekal baginya esok nanti

Zheva

Karya Ahmad Qomar


Sepi aku merenung sendiri
Memandangi bola basket ini
Sekali lagi kupandangi guratannya
Tergores jelas namamu
Akan derai jilbab putihmu
Berlarian mengejar angin pagi
Menerbangkan semua gundahmu

Bayangmu meresapi pori kulitku
Mengalir bersama darah di otak
Berdebur menghantam tulang dada
Namun dapat membuaiku terhenyak
Mendengar alunan dawai angin
Mengirimkan ribuan salam padanya
Pengganti hadirku di sampingnya

Titipkan salamku wahai angin
Pada sahabatku yang di sana
Zheva, yang juga menyendiri

Nyanyikan kembali lagu rindu
'Tuk tenangkan hatinya yang sepi
Zheva, sahabatku yang di sana

Simpan rindu semua… kita
Jangan sampai membuatmu jatuh
Dan tiada lagi bisa bangkit
Tetap doaku 'kan menyertai langkahmu

*Zheva, teman bermain basket selama Ramadhan 2007

Ingin Selesaikan Permasalahan Kota, PWK Adakan Debat Ilmiah

Laporan | Suryani Musi



Washilah Online-Peduli dengan kota yang selalu semberawut dan tidak pernah selesai dengan masalah-masalah yang itu-itu juga, jurusan perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar menggelar Debat Ilmiah, Senin (27/06/2011).

Debat ilmiah yang bertema Implikasi Perencanaan Tata Ruang dalam Dunia Global ini memanfaatkan seluruh institusi perguruan tinggi berdasarkan ilmu yang serumpun. Yakni jurusan Arsitektur dan PWK. Yang menjadi peserta adalah PWK Universitas Hasanuddin, PWK Universitas 45, Universitas Muslim Indonesia (UMI), dan UIN dari jurusan PWK dan Arsitektur.

“Saat ini tata ruang menjadi pedoman dan acuan pembangunan dari suatu pembangunan dari suatu daerah. Mulai dari Nasional, Propinsi, dan Kabupaten. Daerah yang punya rencana tata ruang, kotanya akan berkembang tanpa perencanaan. Hasilnya semberawut,” kata Jamaluddin Jahid ST M Si IAP selaku ketua jurusan PWK.

Dia juga menambahkan bahwa Undang-undang nomor 26 tahun 2007 tentang penataan ruang seluruh kabupaten, dan kota di Indonesia harus rampung rencana tata ruang di wilayahnya (RTRW) dan sudah diperdakan tiga tahun setelah diundangkan. Namun, saat ini di wilayah Sulsel baru satu kabupaten yang telah diperdakan. Yakni Luwu Timur. Padahal deadlinenya tahun ini seharusnya selesai RTRW-nya semua daerah.

“Dengan dasar inilah yang mendorong PWK sehingga mengadakan debat tersebut. PWK sengaja mengangkat tema Implikasi Perencanaan Tata Ruang. Alasannaya karena saat ini sudah sangat terasa imlikasi dari belum diperdayakannya RTRW sehingga pemerintah membangun tanpa arahan yang jelas,” tambahnya.

Konsekuensinya adalah macet, pembangunan ruko di mana-mana, masalah banjir, masalah sampah dan masalah-masalah perkotaan lainnya.

Dari sudut kacamata keilmuan, dengan debat ini mereka berharap mampu menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang. Membuadayakan mahasiswa untuk melakukan kegiatan-kegiatan ilmiah.

“Selain itu, kita juga menginginkan debat ini mampu membangun silaturahmi antar mahasiswa di Perguruan Tinggi dan lembaga profesi seperti Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IKP), dan IKA Alumni PWK itu sendiri yang mereka ajak kerja sama,” kata salah seorang anggota IKP ini.

dia juga mengharapkan bahwa semoga ini tidak hanya dalam bentu debat. Daalm dunia kampus mampu terbentuk kelompok-kelompok belajar atau diskusi dalam rangka mendorong percepatan salah satu misi atmosfir akademik yang kondusif dan ilmiah.

Pemutaran Film Karya Ikom

Laporan | Suryani Musi

Washilah Online-Jurusan Ilmu Komunikasi (Ikom) memproduksi film pendek yang judul Jerat. Film yang berdurasi 20 menit itu diputar di gedung Lecture Centre (LT) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Senin (27/06/2011).

Menurut Produser yang merangkap sebagai editor dan kameramen tersebut menyatakan bahwa film ini merupakan tugas mata kuliah Cinematografi bagi mahasiswa Jurusan Ikom semester VI. Hanya mampu hanya dengan modal seratus ribu, dua hari pengambilan gambar mereka mampu menciptakan film yang mampu mengundang decap kagum para penonton.

Idham menyatakan bahwa ide film itu sebenarnya dia peroleh dari temannya di Jakarta yang merupakan pembuat ilm pendek yang bernama Aulion.

“Menurut saya, film ini sudah cukup bagus. Mulai dari editingnya yang halus, pemerannya ketika bermain, semuanya masuk. Tapi, sayangnya film ini seperti terinspirasi dari film Serigala Terakhir. Ada beberapa kemiripannya. Dari segi jalan cerita saya rasa,” kata Syatria Bakti salah seorang penonton dari jurusan Jurnalistik semester II.

Pernyataan tersebut juga hampir sama dikatakan oleh Yulianti dari mahasiswa Jurusan jurusan dan semester yang sama, tapi dia menekankan bahwa tempat engambilan gambarnya yang paling bagus di film ini. Dia berharap agar ke depannya film ini bisa dikembangkan.

“Film ini sudah sangat bagus saya rasa. Sudah seperti film-film yang diproduksi oleh dunia perfilman,” kata Yulianti.

Sabtu, 25 Juni 2011

Pemikiran Wahid Hasjim Tidak Ditemukan Lagi

Laporan | Suryani Musi


Washilah Online-Pemikiran WahidHasyin sudah tidak ditemukan lagi pada generasi sekarang. Rasa ingin tahunya yang tinggi berbeda dengan sebahagian pemimpin saat ini, mereka membudayakan rasa ingin memiliki yang tinggi.

Itu yang dikatakan oleh Prof Dr Irfan Idris MA di acara seminar Nasional Satu Abad Haul Kiai Haji Wahid Hasyim di gedung Training Centrew Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Sabtu (25/06/2011).

“Wahid Hasyim adalah seorang yang cerdas, punya kemauan yang kuat, percaya diri, punya potensi menjadi tokoh yang visioner, berani memperjuangkan gagasannya. Kiyai Wahid mampu memahami apa yang harus dilakukan dan dan berani serta mampu melakukannya, itu adalah salah satu persyaratan menjadi pemimpin. Rasa ingin tahunya yang tinggi berbeda dengan sebahagian pemimpin saat ini, mereka membudayakan rasa ingin memiliki yang tinggi,” kata Direktur Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme.

Seruan KH Wahid Hasyim dalam tulisannya ‘pemimpin-pemimpin Islam Indonesia agar jangan tetap dalam tidurnya yang nyenyak dan mabok politiknya yang membahayakan.

“KH Wahid Hasjim adalah sosok manusia langka yang paripurna yang pernah dimiliki oleh bangsa kita. Kiprah dan perjuangannya tidak hanya akan terus kita kenang sepanjang masa, namun seluruh sosok pribadinya perlu kita jadikan teladan di tengah krisis keteladanan yang sampai saat ini melanda negeri kita. Demikianlah kiprah seorang Wahid Hasjim dalam kancah nasional dan internasional serta sekelumit pemikiran tentang K.H.A. Wahid Hasjim yang turut mewarnai jiwa konstitusi negara kita,” kata Ketua Mahkamah Konstitusi RI, Prof Dr Moh Mahfud MD SU.

Ahmad Syafii Maarif : Agama Kadang Bajak Tuhan

Laporan | Suryani Musi

Washilah Online- Kita tidak akan mendirikan Negara dengan dasar perpisahan antara “agama” dan “negara”, melainkan kita akan mendirikan negara modern di atas dasar perpisahan antara urusan agama dengan urusan negara. Kalau urusan agama juga dipegang oleh Negara, maka agama menjadi perkakas negara, dan dengan ini hilang sifatnya yang murni. Maka di sinilah agama kadang membajak Tuhan.

Seperti itulah yang dikatakan oleh Bapak Bangsa Prof Dr Ahmad Syarif Maarif MA. Ketika membawakan materi di seminar Nasional Satu Abad Haul KH Wahid Hasyim di gedung Training Centre Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makasassar, Sabtu (25/06/2011).

“Selama berabad-abad dunia Islam kosong dari teori politik yang memberdayakan umat sebagai manusia merdeka. Kewajiban mereka adalah taat kepada penguasa. Para ‘ulama umumnya tidak berupaya membangun teori-teori politik yang berangkat dari doktrin egalitarian dalam al-Qur’an,” katanyanya di hadapan para peserta dan keluarga besar KH Wahid Hasyim.

“Kita kembali ke Indonesia tentang hubungan agama dan kekuasaan. Pertanyannya adalah: apakah politik kekuasaan itu selalu kotor?,”tanyanya.

Dalam sejarah kontemporer Indonesia, perdebatan tentang isu ini tidak kurang sengitnya. Pihak yang membela dasar negara sekuler berdalil bahwa politik kekuasaan itu kotor, oleh sebab itu jangan dicampuradukkan dengan agama yang suci. Sebaliknya pihak santri membantah pandangan ini dengan mengatakan justru karena politik kekuasaan itu kotor perlu dikawal oleh ajaran agama yang suci agar praktik kotor itu bisa dicegah, setidak-tidaknya dikurangi.

Dalam masalah hubungan agama dan negara sebagai sistem kekuasaan, pandangan al-Ghazali (1058-1111) mungkin baik juga dikutip: “Agama itu dasar, sultan itu pengawal/penjaga.”

Artinya agama dijadikan landasan moral agar kekuasaan itu tidak jauh melenceng, sekalipun dalam realitas politik sukar sekali untuk dijalankan. Tetapi setidak-tidaknya acuan moral itu harus ada, apakah itu agama atau fasal-fasal dalam konstitusi.

Sebelum mengahiri pidatonya dia menyatakan bahwa sebagai kesimpulan akhir, dengan modal Pancasila sebagai dasar negara, sebenarnya acuan moral dalam sistem kekuasaan sudah sangat jelas. Tidak perlu lagi dicari dasar lain. Tetapi yang selalu bermasalah adalah kualitas manusia tuna-moral yang sering berlindung di balik dasar Pancasila itu. Akibatnya adalah bahwa bangsa dan negara ini masih saja berada dalam lingkungan kultur politik kumuh.

“Kenyataan yang cukup ironis di depan kita adalah ini: para politisi yang mengaku beragama atau mereka yang jarang menyebut agama, kelakuannya rata-rata tidak banyak perbedaan. Inilah tragedi yang dibebankan atas bahu Pancasila yang harus segera dihentikan. Pendapat Kyai Wahid dan Bung Hatta perlu dibaca lagi agar bangsa ini cepat ke luar dari kubangan politik kekuasaan yang kotor yang sarat dosa dan dusta itu,” katanya mengahiri pidato.

Jumat, 24 Juni 2011

Rektor Tidak Menolak Camaba Nonmuslim


Laporan | Erna

Washilah Online-Rektor Universitas Islam negeri (UIN)Alauddin Makassar, Prof Dr Qadir Gassing menerima calon mahasiswa baru (camaba) mendaftar di UIN.

"Menyandang nama Universitas berarti tidak boleh ada batasan dari suku, kasta, dan agama apa pun. Tapi karena universitas kita punya nomenklatur yang belum diubah maka secara operasional di lapangan kita belum bisa menerima secara formal," ungkapnya, Jumat(24/6/11).

Tahun lalu ada seorang camaba yang lulus ujian SNMPTN pada jurusan Jurnalistik tapi tidak lulus baca tulis al-Qur’an karena beragama non muslim.

"Kami bukan menolak, tapi dia sendiri yang menarik diri. Kami siap menerima tapi dia jatuh diseleksi dan tidak memenuhi persyaratan yang harus dipenuhi. Aneh, kalau UIN tidak bisa mengaji, Tidak boleh tidak, Tidak boleh ditawar," tegasna.

Seribu Rupiah Buat makan Hari Ini

Laporan | Erna


Washilah Online-Pagi yang cerah menyelimuti indanya kendaraan roda empat yang lalu-lalang dengan tertibnya. Dalam suasana hening, berdiri seorang pria berseragam hitam, dia adalah A. Muhidin.

Dia adalah seorang yang bermata pencahariaan sebagai security. Setiap hari senin-jumat A. Muhidin melakukan tugasnya sebagai pengontrol keamanan UIN Alauddin yang terletak di Jl. Alauddin,No.36. A. Muhidin yang ditemui 20 Mei 2011 oleh crew Washilah sedang sibuk menerima setoran pajak dari para pengemudi angkutan (pete-pete’) menuju kampus II yang terletak di Samata.

Setiap mobil angkutan (pete-pete’) dari kampus I diwajibkan membayar pajak Rp.1000. Tarif tersebut tentunya jatuh kekantong security yang kebetulan bertugas. “Ya…cukuplah untuk uang makan”, ujar A. Muhidin tersenyum.

“Rombak Total Gerakan Pemuda”


Oleh El Abdil Rahman DM

Sebuah revolusi besar haruslah di mulai dari
perubahan kecil..

Tujuh puluh delapan tahun sudah deklarasi sumpah pemuda menjadi tonggak sejarah gerakan pemuda Indonesia. Sumpah pemuda menjelma menjadi identitas kebangsaan yang menembus sekat-sekat ideologis, suku, dan agama. Tak terbantah, petuah sumpah pemuda berhasil mengakhiri ruang dikotomi ideologis antara islamisme, nasionalisme, dan marxisme yang dulu pernah diperdebatkan Soekarno dan M. Natsir.
Sumpah pemuda juga berhasil menengahi ruang debat antara modernisme dan tradisionalisme dalam wacana keislaman, serta antara feodalisme dan integralisme dalam ranah kebangsaan. Inilah akar historis visi kebangsaan dimana ruang pluralisme agama dan politik menjadi niscaya.
Kini, setelah 82 tahun berlalu, nampaknya kita dituntut untuk menata ulang kembali model gerakan pemuda. Sebagai sebuah gerakan kebangsaan yang memiliki visi keindonesiaan, model gerakan pemuda, hendaknya mengintegrasikan visi keindonesiaan sebagai ruh gerakan.
Sudah saatnya mengakhiri keterjebakan gerakan pemuda dalam ruang dikotomi ideologis dan kultural. Digiring dalam ranah politik yang menyuguhkan intrik-intrik “busuk” politik, kehidupan pragmatis, yang seketika melemahkan dan menistakan idealisme.
Kini gerakan pemuda-mahasiswa pasca-reformasi tidak lagi dihadapkan otoritarianiasme dan diktatorianisme politik, tetapi dihadapkan pada problem sosio-kemasyarakatan yang akut. Seperti lemahnya kesadaran dan kepekaan sosial masyarakat. Diperhadapkan pula pada menguatnya tirani kapitalistik yang dipraktekkan melalui budaya konsumtif dan hedonis. Dihadapkan pula pada pudarnya identitas kebangsaan dalam bingkai nasionalisme dan lunturnya rasa kebersamaan serta tercederainya pluralisme.
Gerakan pemuda pasca-reformasi hendaknya bisa menyuguhkan tranformasi sosial menuju masyarakat madani. Pola gerakan hendaknya diarahkan pada pembentukan modal sosial (social capital) dalam ranah pemberdayaan masyarakat bawah melalui gerakan peradaban (tamaddun) sebagai proses awal menuju masyarakat madani (civil society). Di saat lemahnya kepekaan sosial pemerintah dalam pemberdayaan kaum lemah dan masyarakat terpinggirkan, pemuda diharapkan mampu menjadi agen transformasi sosial. Pemuda pasca-reformasi hendaknya mampu menerjemahkan basis filosofis tata kebangsaan dalam titah sumpah pemuda melalui gerakan berkeadaban yang membela hak kaum miskin dan masyarakat yang selama ini terpinggirkan oleh tatanan struktural.
Ada beberapa tawaran program, ide, fokus pergerakan di antaranya, pertama, melalui gerakan antikemiskinan dan antipengangguran. Fokus advokasi ini menjadi strategis, mengingat gerakan anti-kemiskinan dan pengangguran sudah menjelma menjadi sebuah gerakan global. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukan terjadinya peningkatan angka kemiskinan dan pengangguran di Indonesia, ditambah lagi dengan berbagai persoalan kemanusian. Sehingga perlu juga di tambah dengan gerakan anti-KKN dengan menanamkan kultur dan prinsip kejujuran dalam pribadi seorang pemuda.
Akhirnya, sejarah akan mencatat dengan tinta emas ketika pemuda pasca-reformasi mampu membumikan idealisme dan mengartikulasikan gagasan-gagasan konstruktif menuju masyarakat peradaban.( EL Abdurrahman DM)

“Hei Pemuda....!! Berhentilah mengeluh, cengeng, bersikap manja, lemah, dan hanya menjadi korban penjual gerakan. Jika kau peduli pada bangsa mu, peduli pada jutaan kaum miskin dan pengangguran di republik ini... bergeraklah, bertindaklah, jangan menunggu.”

Sedang Jatuh Cinta

Karya Ahmad Qomar

Malam ini dia sendirian
Sang kekasih tiada menemani
Hatinya sepi, gundah gelana
Seperti malamnya yang berlalu

Sang kekasih sebenarnya mengerti
Mungkin juga hatinya teriris rindu
Ingin segera melepas dan bertemu
Walau hanya di taman mimpi

Rindu begitu sakit menyapa
Menghela begitu sakit rasanya
SMS dikirim pengganti sua
Dari pada tenggelam dalam duka

Tuhan, tolonglah temanku ini
Dia sedang jatuh cinta
Berikan ketabahan rindu padanya
Dan jadikan sang kekasih setia

*Fikar untuk Rhirhie

Calon Pembantu Dekan Sainstek Belum Ada yang Penuhi Statuta

Laporan | Suryani Musi
Washilah Online-Belum ada calon pembantu Dekan yang memenuhi syarat menurut Menurut Pembantu Dekan II Bidang Administrasi Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, FST, Drs M Arif Alim MAg, Jumat (24/06/2011).
“Berdasarkan rapat kemarin diputuskan tiga nama. Yakni calon Pembantu Dekan (PD) I Washilah ST MT, calon PD II Faisal S Kom M Kom, calon PD III Irwan SSi MSi,” kata Drs M Alim yang sebentar lagi lengser dari jabatannya ini menjelaskan pada UIN Online lewat via telepon.
Ketika ditanya alasannya, dia menjelaskan bahwa jika merujuk pada statute ketiga orang tersebut melanngar satuta UI tahun 2007 pasal 93.
“Ketiganya masih memiliki jabatan fungsional lektor. Sedangkan dalam statuta untuk menjadi syarat PD, dosen magister harus lektor kepala kecuali jika dia bergelar Doktor baru lektor.” Tambahnya.
Ketika ditanya solusinya kan ke mana, dia menjelaskan bahwa masalah ini akan dikirim ke Universitas untuk dibicarakan. Biar di sana baru diputuskan bagaimana jalan terakhitnya.

Kamis, 23 Juni 2011

Kupu Hitam Dan Mawar

Karya Ahmad Qomar


Mawar yang kutaruh di kamar
Berharap semerbaknya mewangi
Mengajak kupu-kupu datang menari

Putik mawar bergoyang disapa angin
Ketika jendelanya turut kubuka
Berdansa, bernyanyi untuk kupu-kupu

Tapi betapa sedih hatinya bunga
Kala kupu-kupu hitam tiba
Terbang angkuh dan tertawa

Kupu hitam datang menggoda
Mengajak perlahan memaksa
Tiadalah bunga tertarik jua

Muak amat bunga padanya
Tiada pantas baginya bersama
Namun kupu turut nafsu belaka

Segenap tenaga dia coba melawan
Apalah daya bunga tiada mampu
Mawar pun kalah kalah, terpaksa menyerah

Malulah bunga pada tubuhnya
Merah cerah kini memudar
Tinggallah dia meratapi akhir duka

Karena-Mu

Karya Ahmad Qomar

Bila nantinya saat itu tiba
Tiada pada-Nya satupun dusta
Kejadian itu benar adanya

Karenanya golonganmu direndahkan
Karenanya golonganmu dimuliakan
Dan dahsyatnya bumi digoncangkan

Hanya karena-Mu aku berlindung
Dari semua ketakutan hari itu
Teguhkan hati ini, oh Tuhan
Andai hari itu 'kan segera tiba
Aku ingin hidup mengabdi pada-Mu

Bila karena-Mu semua itu nyata
Tegakkan imanku dalam raga
Agar siap menghadapinya

Karena golongan kananpun mulia
Karena golongan kiripun sengsara
Dan mereka yang beriman lebih dulu

Sang Bintang

Karya Ahmad Qomar


Berjuta impian t'lah kugantungkan
Seiring hari esok menjelang
Ku tak akan pernah menyerah
Sebelum mimpiku jadi kenyataan

Tiada kata untuk menyerah
Tetap berusaha dan berdoa
Untuk masa depan gemilang

Penuh rintangan, tetaplah tabah
Jangan lupa menebar cinta
Untuk menjadi sang bintang

Biarkan raga, rasa, dan jiwa terasah
Membawamu terbang ke angkasa
Untuk terus bersinar terang

PWK Akan Adakan Pelatihan ArcGIS

Laporan | Suryani Musi
Washilah Online- Apakah Anda seorang praktisi dalam bidang manajemen wilayah kota (urban manager) atau perencanaan wilayah kota (urban planner)? Mungkin lebih bagusnya mengikuti pelatihan agar lebih mantap. Pelatihan tersebut diadakn oleh Jurusan Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar.
PWK akan mengadakan pelatihan ArcGIS (Geographic Information System) dengan mengusung tema Arm Your Selft With the Skill mulai, (23/06/2011). Namun, menurut Arfandi salah seorang panitia menyatakan bahwa adanya kendala teknisi sehingga kegiatan ini terpaksa harus diundur sampai hari Senin mendatang, (27/06/2011).
Saat ini salah satu software yang dapat dijadikan sebagai tools dalam melakukan analisis keruangan/lokasi adalah software ArcGIS. ArcGIS menawarkan seperangkat kemampuan analisis yang sangat bermanfaat bagi para manager kota atau perencana kota. Nah, olehnya itu jurusan PWK akan mengadakan pelatihan ArcGIS ini. Yang bagi yang pencinta studi mengenai kota tentu akan menujang pelatihan ini. ArcGIS satu-satunyalah alat analisis handal yang dapat digunakan dalam mengelola data-data keruangan dalam ilmu perencanaan terdapat sederet alat-alat analisis. Demikian yang dikatakan oleh Arfandi.
“Saat ini salah satu software yang dapat dijadikan sebagai tools dalam melakukan analisis keruangan/lokasi adalah software ArcGIS. Makanya kami ingin mengadakan pelatihan selama tiga minggu. Namun dalam waktu yang satu minggu itu diadakan latihan sebanyak dua kali di Studionya PWK,” kata Arfandi.
Kegiatan ini menurut Azhar adalah program Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) PWK. Bagi yang berminat bisa ikut dengan biaya pendaftaran 300 ribu rupiah.




diharuskan memiliki seperangkat alat (tools) yang diharapkan dapat menunjang dirinya atau timnya dalam melakukan serangkaian analisis keruangan (analisis lokasi). Salah satu tool atau alat yang dewasa ini sangat populer adalah penerapan Sistem Informasi Geografis (SIG) atau bahasa luarnyaGIS). Sebagaimana diketahui ‘ruang’ dalam ilmu perencanaan merupakan salah satu fokus sentral yang berusaha untuk dikelola dengan baik.

Tentu saja kita sebagai pencinta studi mengenai kota tak dapat begitu saja mengklaim bahwa hanya yang telah lama digunakan jauh sebelum ArcGIS populer. Di antara nya analisis gravitasi, analisis lokasi oleh Von Thunen, analisis struktur kota dan morfologi dalam bidang arsitektur dan analisis ekonomi wilayah kota.

Rabu, 22 Juni 2011

Dekan Sainstek Orang Kampung Tapi Tidak Kampungan

Laporan| Suryani Musi


Washilah Online- Dia adalah sosok yang baru-baru terangkat menjadi Dekan Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar. Namanya Dr Muh Khalifah Mustami M Pd. Anak yang dilahirkan dari orang tua yang berprofesi sebagai petani dia adalah salah satu anak desa yang sukses yang dulunya menjadi pengembala. Lahir di kampung kecil yang bernama Suppa di Pinrang.

Mungkin Khalifah kecil dulunya dia tidak mengira akan menjadi suatu saat dia akan menjadi pemegang estafet kepemimpinan di Fakultas Sains. Dia adalah pasangan ibu Hj Asia dan bapak H Mustami. Pasangan orang tua yang begitu dibanggakannya karena selalu mendapat apresiasi tinggi dari orang tuanya untuk mengembara mencari ilmu.
”Meskipun orang kampung, setidaknya saya tidak kampungan. Meskipun saya adalah anak kembala tapi setidaknya saya juga anak pengembara yang selalu mencari ilmu. Seperti pesan kedua orang tuaku,” katanya seraya tersenyum.

Namun, perjalannan hidupnya tidak pernah sia-sia. Berkat semboyang hidup yang tidak pernah dia lupakan, yakni tidak usah hidup bermasalah. Jika segalanya berjalan apa yang dicita-citakan maka akan seperti itulah nantinya.
Rahasia kesuksesannya adalah dia pantang mengerjai orang tuanya. Di tahu seperti apa sulitnya untuk mencarai uang. Dia tahu seperti apa susahnya sehingga dia bisa sekolah untuk menuntut ilmu. Namun, untuk meraih kesuksesan itu dia selalu membuat orang terkesan terhadapnya.

Untuk meringankan orang tuanya, mulai dari SI, S2, dan S3 dia selalu mendapatkan beasiswa prestasi. Namun, satu yang tidak dia bisa raih adalah dia tidak bisa masuk ke jurusan Kedokteran yang menjadi cita-citanya. Hasilnya, jadilah dia mahsiswa UIN (dulu masih IAIN) Alauddin Makassar jurusan Biologi.

Semester V dia telah menjadi pengurus senat institut. Dia juga menyatakan bahwa dia adalah alumni anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Dia menekankan dirinya alumni HMI karena selama jadi mahasiswa dia tidak terlalu seaktif mahasiswa sekarang pada HMI. Selain itu dia termasuk Wisudawan Terbaik II Fakutas Tarbiyah dan Terbaik 1 pada Jur.Tadris Biologi.

Karena termasuk orang yang ramah dan supel, dia memiliki banyak teman. Dari temannya itulah dia mengetahui pengumuman bahwa apa proyek yang memberikan beasiswa S2 URGE yang bekerja sama dengan Dikti dan Bank Dunia. Satu-satunya yang berhasil lolos se-Indonesia adalah dirinya. Besiswa itu di buka di dalam negeri. Yakni di IKIP Malang.

Selama 20 bulan Khalifah berhasil selesai dengan sukses. Tahun 2000 itu juga dia terangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Ketika melihat ada pendaftaran dibuka di Fakultas tarbiah dengan syarat pndidikan minimal S2 Fisika, Kimia, atau Biologi maka lagi-lagi dia terjaring seorang diri. Maka mengajarlah dia di Formasi Ilmu Alamiah Dasar. Juga terpakai di UIN sebagai asisten Prof Dr Azhar Arsyad yang kala itu telah menjadi Rektor UIN tahun 2004 sekaligus menjabat sebagai `tentor di Gama College mata pelajaran Biologi.

Kembali dia mengukir sejarah di kampung orang dengan cara menjadi Wisudawan Terbaik 2 Program Doktor Pasca sarjana pada tahun 2007
Banyak prestasi-prestasi yang telah diukirnya dari segi akademik. Salah satunya adalah dia telah memiliki jurnal Internasional.

Selasa, 21 Juni 2011

HMJ PBI Mengadakan Bakti Sosial

Laporan | Selvi
Dengan rasa peduli yang yang tinggi terhadap lingkungan kampus, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) mengadakan bakti sosial (baksos) di sekitar gedung Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK), bekerjasama dengan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, (Senin,20/06/11).

Terselenggaranya kegiatan baksos tersebut merupakan ide dari PMII rayon FTK. Acara tersebut dibuka 08.45 WIT tepat di depan gedung FTK dan dihadiri oleh Dekan Fakultas Tarbiyah Dr H Salehuddin M Ag.

Sebelum acara tersebut dibuka oleh dekan Tarbiyah. Ketua HMJ PBI, Nirwan Purnomosidi menyatakan bahwa meskipun hanya HMJ mereka tetap akan menghimpun teman - temannya dari PBI tanpa membedakan ras,suku dan organisasi spesifik yang dimiliki mahasiswa.

"Ketika kita ingin fakultas kita mencapai jaya atau kecemerlan, mungkin salah satunya dengan hadirnya kinerjasitas akademik, untuk saling mendukung dalam rangka menjayakan fakultas ini. Semoga kegiatan ini dapat kita rasakan manfaatnya,berjalan dengan perasaan segar,bersih dan indah sebagaimana bersih itu sebagian dari iman," tuturnya DR H Salehuddin M Ag menyampaikan apresiasinya. Dia juga menambahkan untuk tetap menjaga kebersihan di dalam kampus.

Senin, 20 Juni 2011

Besok Pemutaran Film Pendek di Dakwah

Laporan

| Suryani Musi
Washilah Online-Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Seni Budaya eSA Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar akan menggelar pemutaran film pendek di Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Rabu, (20/06/2011).
Menurut Ibink coordinator film menyatakan bahwa seperti sebelumnya di fakultas-faultas lain film yang akan diputar di setiap fakultas lain selalu berbeda-beda. Kecuali film hasil garapan eSA sendiri yakni film Tanda Seru (!).
Kali ini yang akan diputar besok pada pukul 12.30 adalah film yang berjudul the Black Hold yang disutradarai oleh Phill dan Olli yang berdurasi tiga menit, still life yang disutradarai oleh John Knautz yang berdurasi tujuh menit, serta Film Tanda Seru (!) yang berdurasi 13 menit yang disutradarai oleh Ibink.
“Buat maahsiswa fakultas terutama jurusan yang mempelajari tentang cinematografi, mungkin lewat dari ketiga film ini bisa dilihat bahgaimana cara pengambilan gambarnya, kualitas filmnya meskipun hanay film pendek,” kata Ibink.

Minggu, 19 Juni 2011

Palukka di Penghujung Siri’

Oleh: Suryani Musi*
Maman, Tini, Bejo, Acin, Wawa…
Cahaya lilin meliuk-liuk ditiup angin. Dullah duduk mencangkung di atas kursi tua. Kerlap
-kerlip cahaya bergoyang di bola matanya. Dari tadi dia ada di sana. Dalam posisi yang sama, dalam ekspresi yang sama. Dingin. Keras. Yang berubah hanya lilin yang kian surut ke bawah, meleleh. Diganti. Meleleh. Habis. Diganti. Meleleh. Habis.
Tengah malam, tiba-tiba hujan mereda dengan cepat dan tidak lama kemudian tuntas, meninggalkan kelengangan yang dingin. Bunyi radio transistor di warung sebelah serak terseok-seok mengalunkan lagu dangdut, membuat orang-orang yang terbuai makin larut dalam mimpinya. Angin bangkit bergetar di dahan dan dedaunan, menjatuhkan bintil-bintil embun. Nguik kecil anak-anak kucing menyusup di telinganya dari balik dinding. Jelas bukan seekor. Mungkin kucing tetangga yang terjebak hujan, atau mungkin pula kucing liar yang biasanya dijumpai di pasar. Ah persetan!
Dullah menggeliat. Kursi bambu yang ditempatinya berderat-derit. Ditepuknya nyamuk kecil yang dari tadi menempel di dahinya. Seketika nyamuk buncit itu kempes membentuk darah hitam memanjang di muka dan tangannya. Dullah menghela nafas panjang. Melemparkan pandangan keluar. Dia hanya bisa menangkap gelap meski lensa matanya sudah terbiasa mengenali cahaya kegelapan.
Sejenak dia berjingkat-jingkat melangkah di atas tanah lembab lantai gubuknya. Dilihatnya tubuh istrinya yang membuncit di antaranya tubuh-tubuh anaknya yang memperlihatkan bayang tulang iga yang samar. Dia berjongkok. Mengusap perut istrinya. Mengecupnya pelan. Dalam pejam ada kilau air yang membentuk kristal menetes di pipinya,sejenak dia terlihat begitu tersiksa. Kehidupan yang keras membuat wajahnya terlihat begitu tua dari umurnya yang sebenarnya.
Maman, Tini,Bejo, Acin, Wawa…
Ragu yang merongrongnya dari tadi sirna seketika. Sekali lagi memandangi anaknya satu persatu. Ada perih menoreh di dadanya. Dengan langkah pasti dia membuka pintu. Udara dingin yang samar langsung menyambutnya. Dia meraba jimat kecil yang terselip di pinggangnya,memperhatikan di sekelilingnya, memastikan. Matanya awas ke depan, seakan membor dan menembus kegelapan yang tak bertepi. Matanya terpejam. Mulutnya komat-kamit dengan tangan yang bergerak-gerak tanpa ritme yang teratur.
Dullah melipir jalan setapak yang becek sepanjang jajaran pohon randu di rumahnya, sampai di tepian kali kecil, dia menarik sarungnya ke atas, menceburkan pantatnya ke air beberapa saat lamanya. Kemudian bangkit lagi menyisir tepian kali itu. Di sebuah persimpangan jalan, dia memasuki rumpun bambu, titik-titik air barjatuhan secara serentak ketika tak sengaja menyenggolnya, setelah itu keluar ke daerah persawahan. Suara kodok bertabur diseluruh daerah yang dilewatinya. Kampung-kampung masih tersembunyi di balik gerombol pohon-pohon yang membentang jauh dan samar. Cahaya listrik kota berkelap-kelip bagai kunang-kunang.
Kakinya seakan punya mata, bergerak lincah dalam gelapnya malam kendati sesekali terpeleset ketika menginjak daun dan gedebong pisang. Itu jika jalan menurun atau ketika melompati kubangan di depannya. Ada letupan aneh di dadanya. Mungkin karena baru kali ini dia nekat melakukan hal ini. Kembali dia melompat ke sana ke mari. Dia melangkah seperti dibimbing oleh tenaga yang jauh berada di luar dirinya, yaitu keajaiban kehidupan yang menyeru-nyeru sepanjang waktu. Gambaran kehidupan yang sebenarnya belum pernah terwujud tapi dia bersikeras menangkap bayang itu. Namun sendi-sendi kehidupan yang digapainya masih itu-itu juga.
Semakin dekat memasuki daerah pusat perkotaan, semakin cepat dia melangkah. Seluruh jalan yang dia lewati tidak pernah menyisakan bunyi dan bekas tapak. Bumi semakin mati. Bunyi kodok yang dari tadi bersahut-sahutan satu persatu bungkam. Jangkrik diam tak mengerik. Tidak ada suara kendaraan terlebih suara manusia. Mati. Bumi, tanah dan langit tunduk kepadanya.
Laki-laki itu mengeluarkan kelewang. Mencungkil jendela. Hanya sekali sentak, jendela terbuka. Sisa-sisa air hujan merembes dari badannya membentuk bayangan yang berujung di kakinya, membentuk tapak di ubin. Dua tiga kali melangkah, jejak-jejak itu seakan ada yang menyedotnya langsung hilang begitu saja. Mata telinga dan seluruh panca indranya berfungsi baik. Pelan-pelan dia bergerak ke ruang tengah. Memasuki kamar demi kamar. Dia berhasil mendapatkan apa yang diimpikannya di kamar terakhir. Emas yang berliontin beserta permata dari leher pengantin yang tertidur lelap.
Dia tahu persis dari mana emas itu datangnya, siapa lagi kalau bukan hadiah dari si haji Sobri untuk perkawinan anaknya. Sobri yang tamak dan lintah darat yang mengisap seluruh harta kekayaan kampungnya yang berkilo-kilo jauhnya di sana. Tanpa menyisakan apapun kecuali hantu yang bernama kemiskinan tanpa ujung. Dia capek. Kemiskinanlah yang telah memperkenalkannya pada kehidupan yang sebenarnya yang hanya terdiri atas hitam dan putih.
Dia mencopoti seluruh perhiasan berharga di rumah itu. Anting, gelang, permata… habis tergasak tanpa sisa. Demi Maman, Tini, Bejo, Acin, dan Wawa tak lupa calon anaknya yang mau lahir. Dengan gerak ringan, dia meninggalkan rumah itu. Laki-laki itu menembus malam yang kian menua.
Sepanjang jalan berbagai pikiran pun yang melintas di kepalanya. Sebetulnya dia sudah capek memikirkan mereka. Memikirkan penyumpal apa yang akan menutup mulut anaknya supaya tidak menangis setiap hari. Belum lagi baju mereka. Mainan mereka. Sekolah mereka. Sekolah? Dullah kaget sendiri. Anak sulungnya sudah menginjak umur sepuluh tahun tapi belum juga mengenal bangku sekolah. Dia mendesah sendiri. Mau tidak mau pikirannya lari lagi ke mereka. Maman, Tini, Bejo, Acin, Wawa, dan calon bayinya…
Tapi Dullah bangga pada wanita yang merelakan benihnya lahir lewat rahimnya itu, wanita tegar yang tidak pernah kehilangan senyum kesabaran. Wanita yang begitu tabah menerima segala apa yang ada pada dirinya.Wanita yang tidak pernah bosan kepadanya. Dia begitu bangga, bangga sekaligus tersakiti tatkala wanita itu bagai karang dalam penderitaan.
“Daeng… dalam diri semua orang ada dua macam manusia. Yang pertama, manusia rohani yang mencari kebahagiaan untuk dirinya ji, kebahagiaan yang harusnya menjadi kebaikan untuk orang lain; sedangkan yang kedua, manusia binatang yang mencari kebaikan untuk dirinya sendiri, dan untuk kebaikan itu dia mau mengorbankan yang seharusnya untuk dunia*…mengertiki Daeng? Jangan sampaiki lupa sama siri’! siri’ Daeng”
Lelaki itu menghela nafas panjang dia tidak tahu dari mana kata-kata itu didapat oleh istrinya. Kata-kata yang sarat dengan filosofi, begitu bijak, penuh makna. Tapi semenjak dia mengenal dirinya dia mulai muak melihat kepalsuan-kepalsuan di sekelilingnya. Kenyataan-kenyataan telah membuatnya kecewa. Dia mulai jenuh dengan basa-basi. Seandainya bukan karena istrinya, seandainya bukan karena cintanya, seandainya bukan karena buah hatinya, dia tidak bisa membayangkan akan seperti apa jadinya dirinya.
“Cukup malam ini aku jadi palukka, ndi’,…” Bisiknya parau dalam hening yang beku. “Berapa hari lagi anak kita lahir, aku tidak tega Maman dan Tini merengek-rengek minta sekolah, Bejo yang selalu menghilang dari rumah untuk mencari makan sendiri, Acin yang mau dibelikan obat karena suhu badannya belum turun meski sudah dua minggu, dan Wawa yang busung lapar… juga kau ndi’ yang selalu merelakan makanan yang terlanjur ada di mulutmu demi anak kita. Cukup malam ini ndi’ aku jadi palukka… cukup malam ini saja. Manusia binatang yang sering kau sebut-sebut tidak pernah dan tidak akan ada jika anak-anak tertidur pulas dalam kenyang…” Dia tersedu sendiri meraba kantongan yang berisi perhiasan di balik sarungnya.
Mendadak lamunan laki-laki itu rontok bagai permata berhamburan di tanah yang becek. Sejenak dia tertegun, tepatnya, kaget. Sayup-sayup dia mendengar suara yang bersumber dari mesjid yang tidak jauh dari tempatnya berjalan. Kepalanya mendongak, telinganya awas. Dia memegang jimatnya, mulutnya komat-kamit. Matanya terpejam seraya berjalan lambat.
Assalatu khairun mina nnauuuum…..
Suara itu serak, panjang, dan tertatih-tatih. Entah kenapa dia jadi merinding. Bulu kuduknya berdiri. Langkahnya berat. Di antara rimba-rimba kegelisahan hatinya yang nun jauh di dalam, ada sesuatu penawaran yang damai yang membuatnya antara ragu, takut, dan malu. Bercampur aduk membuatnya jadi gelisah, sekuat tenaga dia mencoba melawan suara itu. Memang baru kali ini dia mempergunakan jimat ini semenjak dia telah menikah. Jimat warisan nenek moyangnya dan dia tahu bagaimana terhinanya mereka yang sudah ada di balik batu nisan, raja dari segala raja kejahatan. Karena diakah yang lemah sehingga suara adzan itu tidak berhenti dan tidak membuat muadzinnya tertidur? Ataukah karena muadzin itu lebih memiliki ilmu yang lebih tinggi? Kegelisahan kian mencekamnya. Kaki ini, kaki sialan ini tetap bergerak ke sana meski pikiran, perasaan, dan tubuhnya mencoba untuk menolak.
Ada yang tidak beres. Nuraninya membisikkan itu, semakin kuat dia menolak semakin tidak kuasa pula menarik kakinya untuk melangkah mundur. Lelaki itu geram sendiri. Merasa dipermainkan. Dia mecabut kelewang, pada subuh yang samar kelewang itu mengkilat-kilat. Kali ini izinkan daeng jadi pembunuh ndi’ demi siri’ demi harga diri. Namun lagi-lagi dia kalah, belum apa-apa tiba-tiba ada rengkuhan lembut yang singgah di bahunya. Dullah benar-benar kaget dalam belalak.
“ Mariki sholat dulu nak…” Laki-laki tua itu membimbingnya masuk, melepaskan alas kakinya di depan mesjid, sorban putih yang bersulam emas menyampir di bahunya. Dullah memperhatikan laki-laki itu secara seksama. Ada aura bening yang terpancar dari wajah dan mata itu. Aura kedamaian, aura kesejukan. Sejenak Dullah ragu tapi pada akhirnya turut juga seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Laki-laki tua itu mangambil kelewang dari tangan Dullah dan meletakkannya di belakang. Perlahan meraba kantongnya yang ada di balik sarung dan lebih aneh lagi dengan sopan meminta jimatnya dilepas. Lagi-lagi Dullah menurut tanpa komentar, tak berdaya.
“Dullah…” Tangannya sudah ada dalam genggaman kakek tua itu seusai mereka sholat. Dullah bungkam seribu bahasa, kaget,mereka belum saling memperkenalkan diri.
“Emas itu bukan milikmu. Kamu lakukan itu demi anak-anakmu kan? Dari hasil itukah kau ingin membesarkan mereka Dullah? Kita menjunjung siri’ na pacce anakku. Sudah hilangkah gaung itu di dadamu? Itu bukan hakmu tapi haknya haji Sobri”. Dullah menunduk.
“Istrimu sebentar lagi melahirkan, tegakah kau memberinya makanan yang haram, siapa tahu itu adalah makanan terakhirnya? Seharusnya kaulah yang selalu patettongengngi lempu’e anakku…” Dullah meremas tangannya yang gemetaran. Keringat dingin merembes di pelipisnya .Dia menjerit dalam hati sekuat-kuatnya.
“Allah mempercayaimu dengan menitipkan makhluk-makhluk kecil-Nya kepadamu. Karena Dia yakin kau bisa menghidupinya bukan dengan jalan ini anakku. Kau mestinya mencamkan siri’,lempu,ada tongeng di dadanya semenjak dia kecil!”
Dullah menangis tanpa suara.” Tapi mereka mau makan apa?” ucapnya kering. Laki-laki tua itu terkekeh, sejenak terbatuk-batuk.“Kau cengeng Dullah. Buka matamu lebar-lebar, pandangi sekelilingmu. Masih banyak yang lebih kekurangan daripada kau. Kau masih punya penghasilan sebagai tukang suruh-suruh di rumah haji Sobri. Kau masih punya istri yang setia mendampingimu. Kau masih punya anak-anak yang bisa dibentuk melalui sentuhan tangan istrimu, kau masih sehat, kau masih mempunyai anggota tubuh yang lengkap. Kau hanya terlalu cengeng dan suka ditunggangi oleh manusia binatangmu. Kau ingat kan ucapan-ucapan istrimu? Tentang dua macam kepribadian dalam diri manusia? Kau ingat?” Laki-laki itu terkekeh kemudian mengembalikan semua milik Dullah. “Kembalikan pada yang berhak!”
Sejurus Dullah termangu.(*)

* Leo Tolstoi. Simbol kepujanggaan yang telah melahirkan novel utama sastra dunia (Doina I mir) artinya Perang dan Damai.

Jumat, 17 Juni 2011

UIN Cetak Doktor Hukum Islam yang Cumlaude

Laporan| Suryani Musi
Washilah

Online-Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar mencetak doktor dalam bidang Hukum Islam dengan predikat cumlaude. Promosi doctor tersebut digelar di gedung Pascasarjana (PPS) UIN Alauddin Makassar, Jumat (17/06/2011) malam.
Dia adalah Dr H Muhammad Idris SH MH. Di hadapan para promoter yang terdiri dari Prof Dr Rasdianah, Prof Dr H Hasyim Aidit MA, dan Prof Dr M Irfan Idris M Ag dia berusaha untuk mempertahankan disertasinya yang berjudul Pelanggaran HAM Perspektif Hukum Islam (Studi Implementasi Tugas Polri Polda Sulsel).
Sekilas mengenai isi disertasi tersebut yakni membahas permasalahan dalam tiga sub pokok yakni gambaran implementasi tugas Polri Polda Sulsel, sampai seberapa besar pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) dalam menjalankan tugas-tugas, faktor-faktor apa yang mempengaruhi terjadinya pelanggaran HAM dalam tugas Polri Polda Sulsel. Hal ini dimaksudkan untuk melakukan perlindungan HAM dalam menjalanan tugas perspektif hukum Islam.
Prinsip dasar penelitian ini adalah penelitian kualitatif empiris. Pendekatan yang digunakan adalah teori normatif, yuridis, dan sosiologis. Data primer diperoleh melalui data observasi dan wawancara, data sekunder melalui telaah library research (studi dokumen). Untuk analisis data penelitian menggunakan deskripsi kualitatif, dan untuk menyajikan hasil penelitian menggunakan instrument distribusi frekuensi.
“Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan, bahwa implementasi tugas polri polda sulsel di wilayah hukum Polri Polda Sulsel belum signifikan. Secara umum masih sering terjadi penyimpangan yang berimplikasi pelanggaran HAM seperti kasus-kasus asusila, pembunuhan, pencurian, dan narkoba,” kata Muhammad Idris.
Persentase pelanggaran HAM polri polda Sulsel dalam pelaksanaan tugas di wilayah hukum Sulsel dalam lima tahun terkhir cukup tinggi sehingga mencapai 2.615 personil Polda Polri Sulsel. Ada tiga faktor yang mempengaruhi sehingga mempengaruhi HAM oleh Polri polda yakni factor ekonomi, factor pendidikan, dan faktor yang paling berpengaruh adalah faktor budaya hukum dan lemahnya regulasi (aturan) seperti adanya istilah ankum (atasan memiliki kewenagan penuh menentukan hukuman terhadap personil polisi yang mlanggar HAM).
HAM perspektif hukum Islam lebih bersifat universal dan manusiawi. Namun prinsip-prinsip hukum dasar penegakan HAM perspektif hukum Islam itu barudapat terwujud, apabila pembentukan dan erumusan regulasi di bidang hukum kepolisian di Indonesia mengacu pada hukum Islam.
Muh Idris berhasil lulus dengan nilai IPK 95,00 atau 4 A plus.

Kamis, 16 Juni 2011

Idris Patarai : Masalah Kemiskinan adalah Masalah Orang Kaya

Laporan| Suryani Musi


Washilah Online-Masalah orang miskin bukan masalah oaring kaya akan tetapi masalahnya orang kaya. Seperti itulah yang dikatakan oleh Idris Patarai yang mewakili Walikota yang tidak bisa datang pada temu Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) yang digelar di gedung Training Centre Kampus I Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Selasa (14/06/2011).
“Jangan katakana bahwa masalah orang miskin adalah masalahnya. Bukan, justru itulah masalahnya orang kaya yang harus ditangani,” kata Idris Patarai.
Penyebab kemiskinantersebut menurutnya berawal dari system pemerintahan yang desentralisasi yang bersifat struktural. Adanya pelimpahan wewewang utuk daerah untuk membahas daerahnya sendiri dengan asas otonomi daerah yang tidak sejalan dengan konsep yang sebenarnya.
“Asas ini berjalan setengah-setengah. Jadinya, seperti inilah jadinya Negara ini sampai sekarang,” tambahnya.
“Sebenarnya ada yang hilang di Repoblik ini. Yakni tidak adanya pelayanan public yang bagus. Saya Cuma mengutip kata-kata dari Arifin Muhtar. Jika kondisinya sudah demikian maka Negara ini akan jadi gagal,” ucapnya.
Selain itu Ir H M Adil Patu, M Pd juga menjelaskan dari segi konsep peran otonomi daerah dalam pembangunan dan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) adalah tidak bole lagi ada ketergantungan pada Negara lain.
“Otonomi daerah harus ditingkatkan,” kata salah satu anggota DRRD ini.

Fadel Muhammad : Demo itu Berasal dari Kesalahan Kita

Selasa, 14/06/2011 | Suryani Musi


Washilah-Demo yang terjadi akhir-akhir ini yang marak dilakukan oleh mahasiswa Makassar bahkan telah diketahui oleh orang luar negeri menurut Prof Dr M Sattu Alang peserta Temu Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Indonesia Timur yang dilaksanakan di gedung Training Centre Universitas Islama Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Selasa (14/06/2011).
Menurut Menteri Kelautan dan Perikanan yang ikut hadir dan memberikan kuliah umum dan dilanjutkan dialog menyatakan bahwa salah satu factor terjadinya demo adalah dari mereka sendiri yang terdemo.
“Jika mereka melakukan demo, itu artinya kesalahan itu bersal dari kita sendiri dan kita tidak boleh mencegahnya, kita harus memperhatikan mereka supaya mereka tidak semakin liar dan anarkis. Semakin ditekan, mereka akan semakin anarkis, ” kata Ir Fadel Muhammad.
Dan, kepada mahasisawa ditekankan bahwa untuk menjadi seorang leader yang sukses di masa yang akan datang ada dua kunci untuk itu, yakni menyeimbangkan antara kegiatan kurikuler dan kegiatan nonkurikuler.
“Demo itu perlu. Mereka butuh komunikasi. Mereka demo karena ada yang salah pada kita. Pada sistem yang kita bangun. Kita butuh mereka untuk terobosan segar,” tambahnya.
Prof Kasim Mattar menambahkan bahwa untuk demo berani saja belum cukup akan tetapi harus diimbangi dengan kecerdasan.
“Demonstrasi yang berani dan tidak cerdas itu yang sangat menjengkelkan public. Karena hanya menggangu publik saja,” kata Prof Kasim Mattar.

Syariah Telah Lepas Mahasiswa PPL

Laporan | Suryani Musi dan Agus


Washilah Online- Sebanyak 147 mahasiswa jurusan Peradilan Agama, Ilmu Hukum, Perbandingan Mashab Hukum (PMH), Hukum Pidana dan Ketatanegaraan (HPK) Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) yang akan melakukan Praktek Pengenalan Lapangan (PPL). Secara resmi telah dilepas oleh Pembantu Dekan (PD III) pada Bidang Kemahasiswaan, Drs Mukhtar Lutfi MPd Kamis, (16/06/2011).
Dalam sambutannya Mukhtar Lutfi mengharapkan agar seluruh Mahasiswa yang mengikuti PPL mampu menjaga nama baik almamater UIN khususnya pada Fakultas Syariah dan Hukum.
”Saya harap seluruh mahasiswa yang mengikuti PPL Ini agar tidak mempermalukan fakultas, dan aktif-aktiflah bertanya,” ujarnya dengan penuh harap.
Selain itu menurut ketua panitia PPL, Abd Halim Talli S Ag M Ag mengatakan bahwa tahun ini mahasiswa yang mengikuti PPL tahun ini terhitung mulai (16/06) hingga (06/07). Tanggal (07/07) hingga (15/07) PPL di Pengadilan Tinggi Agama, tanggal (27/06) PPL di Mahkamah Konstitusi dan Komisi Yudisial.
“Lokasi PPL mereka menempati pengadilan Agama Makassar, Pengadilan Sungguminasa, Pengadilan Negeri Makassar, Kejaksaan Negeri Makassar, Mahkama agung, dan komisi Yudisial,” tambah Abdul Halim.

KSR Gelar Aksi Donor Darah

Laporan | Suryani Musi
Washilah Online-Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Korps Suka Rela (KSR) Palang Merah Indonesia (PMI) Unit 107 UIN Alauddin Makassar menggelar aksi donor darah di lapangan futsal Kampus II Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Rabu (16/06/2011).
Aksi donor darah ini merupakan rangkaian dari program kerja KSR itu sendiri. Menurut Intan, Kepala Divisi Humas menyatakan bahwa kegiatan akan biasanya diadakan tiga kali dalam satu tahun.
“Untuk menjadi seorang donor darah, tidak semua orang bisa karena harus memenuhi kriteria tertentu meskipun mereka mau. Biasa ratusan yang mendaftar tapi cuma sebagian kecil yang berhasil lolos,” kata Intan.
Siapa saja yang boleh menjadi donor darah? Siapa pula yang tidak boleh mendonorkan darah?
Syarat-Syarat untuk menjadi donor darah yakni umur 17-60 tahun, berat badan Min 45 Kg, temperatur tubuh 36,6 – 37,5 derajat C (Oral), tekanan darah, sistole : 110 – 160 mmHg, diastole : 70 – 100 mmHg, denyut nadi 50 – 100 permenit, haemoglobin. Wanita min 12 gr %, Pria min 12,5 gr %.
Seseorang tidak boleh menyumbang darah pada keadaan pernah menderita hepatitis B, dalam jangka waktu 6 Bulan sesudah kontak erat dengan penderita hepatitis, dalam jangka waktu 6 bulan sesudah transfusi darah, dalam jangka waktu 6 bulan sesudah ditato / tindik telinga, dalam jangka waktu 72 Jam sesudah operasi gigi, 6 bulan sesudah operasi kecil, dan 12 bulan sesudah operasi besar, dalam jangka waktu 24 Jam sesudah vaksinasi polio, Influenza, Chlorea, Tetanus dipteria atau rabies profilaksis, dan sejumlah penyakit lainnya.
“Sejak mahasiswa baru (Maba) saya belum pernah sekalipun bisa donor darah karena haemoglobin saya rendah dan belum pernah terpenuhi, apalagi misalnya prempuan yang tiap bulan haid,” kata Intan.

Meutya Hafid Pemateri di Temu BEM Indonesia Timur

Laporan

| Suryani Musi
Washilah Online-Meutya Viada Havid paling akrab disapa dengan Meutya Havid saja hari ini membawakan materi di gedung Training Centre Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar dalam acara Temu Badan Eksekutif (BEM) mahasiswa Indonesia Timur yang bertema Dari Timur Indonesia Bangkit, Rabu (15/06/2011).
Tema yang dibawakan olehnya adalah Peran Media dalam Mengawal Perubahan Bangsa. Meutya menilai bahwa saat ini di zaman reformasi ini terdapat empat pilar. Eksekutif, yudikatif, legislatif, dan media.
Di antara keempat pilar tersebut yang belum sepenuhnya tersorot adalah pilar keempat yakni media. Media kadang-kadang melakukan pemberitaan yang proporsional, tidak balance, dan tidak independen.
“Contohnya, kebanyakan yang disorot jika ada kebakaran, ada banjir besar pasti proporsi yang besar itu pasti berita yang di seputaran Jawa saja melulu. Padahal mungkin saja yang ada di daerah banyak daerah-daerah yang banjirnya berkali-kali lipat dari itu tapi tidak mendapat sorotn media. Atau contoh lainnya sekali disorot, yang jelek-jeleknya saja,” kata mantan wartawan Metro TV ini yang pernah diculik dan disandra. Beserta rekannya juru kamera Budiyanto oleh sekelompok pria bersenjata ketika sedang bertugas di Irak pada 18 Februari 2005.
Dia memberikan contoh bahwa dari Indonesia Timur pemberitaannya yang paling kerap ditonjolkan adalah demo.
Dia juga menekankan sebuah media boleh berpihak jika keberpihakannya itu pada rakyat. Jangan pada hal-hal yang lainnya saja.

Konflik Bukan Sesuatu yang Harus Dihilangkan

Laporan | Suryani Musi


Washilah Online-Konflik bukan sesuatu yang harus dihilangan. Koflik itu sendiri merupakan bagian dari kehidupan.Hal tersebut diungkapkan Kepala Kepolisian Daerah Sulselbar Irjen Johny Wainal Usman ketika membawakan kuliah umum di acara temu Badan Eksekutif Mahasisawa (BEM) universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Rabu (15/06/2011).
“Konflik adalah incompability dari berbagai kodisi yang beragama. Keberagaman sebenarnya akan membuat system stabil. Tapi, itu jika antara komponen tersebut dijalani secara harmonis,” katanya.
Namun dia juga menekankan ada keberagaan juga akan menghancurkan system bila ikatan antar komponen yang beda tersebut didasarkan pada dominasi kekuatan atau kekuasaan dari suatu komponen terhadap komponen lainnya.
“Komponen penyebab konflik itu biasanya disebabkan oleh kebuuhan, persepsi, kekuasaan atau power, nilai (Value), serta perasaan,” paparnya di hadapan para delegasi.

Ishak Ngerlajaran Tidak Pusing dengan Aliran Sesat

Laporan | Suryani Musi


Washilah Online-Tidak pusing mengenai dengan adanya aliran sesat yang marak dibicarakan oleh media. Hal tersebut disampaikan di acara temu Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Indonesia Timur Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar di gedung Training Centre UIN Alauddin Makassar, Rabu (15/06/2011).
“Saya tidak pusing dengan adanya aliran sesak di Indonesia. Jika alirannya sesak, setidaknya akalnya masih bagus. Tapi, jika kelakuannya sesat itu yang bermasalah,” katanya ketika membawakan makalah yang berjudul Keberagaman Agama dalam Menciptakan kerukunan Bermasyarakat ‘Aliran Sesat, terorisme, dan Konflik sara di Indonesia’.
Kelakuan sesat dinilai sangat merugikan masyarakat, bangsa, dan Negara. Mulai dari tanah dan laut digerus dengan habis. Kelakuan tersebut juga ditambahkan oleh prof Dr Hamdan Juhannis salah seorang Professor termuda UIN, bahwa kelakuan sesat tersebut dimulai dari ketidakjujuran.
Ketika para peserta ditanya siapa yang tidak pernah menyontek sejak kecil, tidakn ada yang mengangkat tangan sama sekali.
“Menyontek adalah varian lain dari bohong. Korupsi juga merupakan bagian dari varian tersebut,” kata Prof Hamdan.
Meskipun Indonesia mayoritas beragama Islam, akan tetapi pelaku yang tidak terpuji di mana-mana. Ishak menyatakan bahwa orang bodoh yang tidak mau menerima Islam. Islam yang dimaksudkan olehnya adalah Islam dalam bentuk tingkahlaku, perkataan, dan hubungan kepada sesama. Meskipun bukan dalam bentuk symbol-simbol.
“Bagaimana jika kita bongkar masjid dan gereja sehingga tidak ada lagis sekat-sekat yang selalu membuat perpecahan. Kita kemudian berpegangan tangan dalam kebersamaan dengan pijakan tanah dan beratapkan langit,” katanya.
Prof Hamdan saja mengatakan bahwa orang yang beragama jusru kadang bersifat lebih Islami dari orang Islam sendiri. Mulai dari etos kerja, kejujuran, dan kedisiplinan.
“Mungkin lebih bagus jika kita tidak tidak beragama. Karena justru orang yang beragamalah yang sering mengatasnamakan agama untuk melakukan kekacauan,” kata Prof Hamdan.

Indonesia Timur yang Paling Berhak Bicara SARA


Laporan | Suryani Musi
Washilah Online- Dr Sabri AR menyatakan bahwa yang paling berhak untuk membicarakan tentang  Suku, Antar golongan, Ras, dan Agama (SARA) adalah mahasiswa atau para pemuda dari Indonesia Timur. Hal tersebut disampaikan ketika menghadiri cara Temu Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar di gedung Training Centre UIN Alauddin Makassar, Rabu (15/06/2011).
Pusat SARA tersebut menurutnya berada di kawasan Indonesia Timur. Negara hanya terbatas pada konsep seperti pemadam kebakaran jika terjadi konflik-konflik terjadi yang mengatasnamakan SARA.
“Sebetulnya, jika Negara hanya menjadi pemadam setiap ada konflik maka konflik tersebut tidak akan pernah mampu diminimalisir. Jadi, solusi terbaik yang musti dilakuka oleh para pemuda dari Kawasan Indonesia Timur adalah melakukan gerakan kultur untuk meredam konflik-konflik yang ada,” katanya di haapan para delegasi-delegasi perguruan tinggi Indonesia Timur.
Jika tigma yang mencuat di permukaan yang menyatakan bahwa SARA adalah selalu menjadi kambingg hitam setiap permasalahn yang ada san tak mampu selesai-selesai, maka Dr Sabri menyatakan bahwa sudah semestinya stigma tersebut dipatahkan oleh para mahasiswa dan menganggap bahwa SARA tersebut adalah ibu kandung di Republik ini.
“Jangan jadi anak Maling Kundang dan menjadikan bahwa SARA adalah kambing hitam setiap konflik,” tambahnya.

Selasa, 14 Juni 2011

Temu BEM: Dari Timur Indonesia Bangkit

Laporan | Suryani Musi

Washilah Online - Kegiatan Temu Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Indonesia Timur dengan tema dari Timur Indonesia Bangkit sementara berlangsung di gedung Trining Centre Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar yang berlangsung mulai dari (13/06) sampai (15/06), Senin (13/06/2011).

Pemateri-pematari yang mengisi kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini yakni, Gubernur Sulawesi Selatan Dr H Syahrul Yasin Limpo SH M Si MH, Rektor UNM, Prof Dr H Aris Munandar M Pd, Menteri Perikanan dan Kelautan RI, Dr. Ir. Fadel Muhammad, Rektor UIN Alauddin Makassar Prof Dr Qadir Gassing HT MS, walikota Makassar Ir H Ilham Arif Sirajuddin MM, Pangdam VII Wirabuana SDR Ishak Ngelajaratan, Mutia Vidia Havid dan sederet orang penting lainnya.

Rektor UIN Alauddin, Prof Dr Qadir Gassing HT MS menyatakan bahwa sudah saatnya pemerintah menoleh ke Timur tidak hanya ke Barat saja.

“Salah satu tuntutan kepada pemerintah untuk menoleh ke Timur jangan cuma perhatikan Barat. Bukan cemburu, dalam banyak hal Indonesia Timur banyak ketinggalan dibanding dengan kawan-kawan kita di Indonesia Barat. Salah satu contohnya dari segi anggaran, dan itusangat berpengaruh pada tingkat pendidikan,” kata Prof Qadir Gassing ketika membawa kuliah umum sebelum membuka acara Temu BEM tersebut.

Selain itu dia juga menyatakan bahwa pendidikan adalah bukti kemajuan suatu wilayah. Jika ingin bangkit dari Timur, salah satu penekanan guru besar dalam bidang Guru Besar dalam Peradilan Islam ini menyatakan bahwa untuk bisa bangkit dari Timur, proporsional anggaran pendidikan harus diterapkan.

Selain, kunci selanjutnya agar Indonesia mampu maju dari Timur yakni dibutuhkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang tinggi terutama dari para ahli atau peneliti. Dari para peneliti itulah diyakinkan akan berkembangan Sains dan Teknologi. Tapi syaratnya peneliti atau ahli tersebut harus berkolaborasi dengan dengan pihak industri. Begitu pula sebaliknya.

“Selain itu, ke depan sudah seharusnya dipisahkan seluruh kementrian. Kementerian riset dan pendidikan tinggi hArus berdiri sendiri. Tidak lagi hubung dengan Departemen Agama dan Dinas pendidikan. Kementrian Pendidikan Tinggi berfungsi untuk memajukan iptek ke level dunia,” lanjutnya.

Selain itu harapan selanjutnya dari Rektor bahwa seharusnya pemerintah serius membenahi SDM.

“Melalui Mentri Pendidikan Nasional (Mediknas), Kementrian Agama (Kemenag), dan seluruh yang ada di bidang pendidikan bahwa perlu diciptakan 100 Perguruan Tinggi yang berkelas dunia. Dan, pendididkan tersebut harus disponsori penuh oleh pemerintah. Dari 100 Perguruan Tinggi itulah , SDM kelas dunia yang mampu mengangkat keterpurukan Indonesia sekarang dan ke depan.”

Gubenur Sulsel Bawakan Dialog di Kegiatan Temu BEM

Laporan | Suryani Musi

Washilah Online - Gubernur Sulawesi Selatan, Dr H Syahrul Yasin Limpo SH M Si MH bawakan dialog di acara Temu BEM Indonesia Timur dengan Tema dari Timur Indonesia Bangkit. Kegiatan ini digelar di gedung Training Centre Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Senin (13/06/2011).

Dalam dialog tersebut selain dihadiri oleh Gubernur, juga hadir Rektor UIN Alauddin Makassar dan juga dari Tokoh Pemuda sekaligus anggota DPD RI, Asri Anas.

Untuk menjadikan dari Timur Indonesia bangkit, Gubernur menekankan pada unsur rasa nasionalisme yang harus dipertahankan, dari Rektor UIN sendiri menginginkan dari segi pendidikan yang harus ditekankan. Dan, terobosan baru dari tokoh pemuda menginginkan kembalinya agenda reformasi.

“Selain dari unsur nasionalisme yang harus dikembangkan juga dari sektor pendidikan. Sektor pendidikan yang dimaksudkan di sini adalah mengenai demensi hati, demensi otak, dan behavior (tingkahlaku),” kata Gubernur ketika menjawab salah satu pertanyan dari perwakilan Dedikasi Muhammadiyah Buton yang bernama Ajnan ketika mempertanyakan indikator apa yang semestinya digunakan untuk menciptakan Indonesia Bangkit dari Timur.

Sebelum mengakhiri dialog tersebut, Rektor UIN Alauddin menyatakan bahwa sebetulnya ada yang hilang dari bangsa ini. Yakni karakter bangsa. Penegasannya jangan hanya pada konsep karakter tersebut dibikin akan tetapi juga pada segi aktionnya atau pelaksanaannya.

“Seribu kali melakukan seminar kemudian satu kali action itu sama sekali belum berarti,” tambah Rektor.

Dari tokoh pemuda menambahkan bahwa hanyaa ada dua modal besar untuk bangkit bagi para pemuda. Yakni modal pebgetahuan dan penguasaan informasi dan teknologi.

“Tidak ada artinya jadi aktivis jika tidak memiliki personal kapasity. Dari personal kapasty itulah yang akan menjadi modal dalam kekuasaan pemuda sekarang,” kata Asri Anas.

Meniti Cahaya Bersama Para Sastrawan

Laporan | Suryani Musi / Mita

Washilah Online - Jangan kaget ketika datang ke kampus I Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar dan menemukan kapal pinisi di tengah lautan Sabtu, (12/06/2011) malam.

Anda mungkin akan kaget, apalagi menemukan banyak lilin di sepanjang pinggir gedung-gedung dan beberapa obor. Dikelilingi oleh obor-obor tersebut di tengah-tengah ada kapal pinisi yang besar dalam lautan. Salah, itu bukan lautan dan kapal pinisi sebenarnya akan tetapi itu adalah desain panggung Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Seni Budaya (SB) eSA.

Mereka mengadakan pementasan seni yang bertema Meniti Cahaya. Menghadirkan Seniman Kota Makassar, Budayawan, Sastrawan, Penyair termasuk AAM Mansur (Penyair Muda Sulawesi Selatan), Wahana Lingkungan Indonesia (Wahli), Aslan Abidin, Asdar Muis, Aco Dance, Komposer Makassar (Maskur Al-Alim), Jamal di Laga (Gedung Kesenian), Sabri AR, dan Pekerja Seni Kampus sekota Makassar (PSK).

Ditemani lilin, konsep pinisi di tengah kolam, di bawah gemerlap gemintang, dan serasa berada di pinggir pantai, penonton disuguhi berbagai macam pementasan. Mulai dari tilawah, pembacaan puisi, monolog, gesekan piano dan denting senar gitar, penonton diarak ke sebuah kehidupan masa lalu yang belum mengenal listrik, bahwa seperti inilah kehidupan tersebut. Terutama ketika Luna Vidia salah seorang seniman besar Makassar memukau penonton dengan monolognya yang berjudul Jalan Kecil Menuju Rumah dan diiringi biola Komposer Makassar, Maskur. Sampai penonton menitikkan air mata, hening, dan hanya suara Luna yang menyayat.

Menurut Ketua Umum SB eSA, Muhammad Albar menyatakan bahwa konsep dalam kegiatan ini sama sekali tidak menggunakan cahaya listrik, selain dari ingin berpartisipasi dalam gerakan hemat listrik Indonesia, juga ingin mengingatkan kembali masa-masa lalu bahwa dulu ketika belum ada listrik anak-anak masih mampu membuat mobil-mobilan dari kulit jeruk, namun seiring dengan perkembangan dan ada listrik, anak-anak jaman sekarang berteriak karena tak mampu main play station.

“Pemikiran ini sebenarnya saya ambil dari kata-kata kanda Asdar Muis RMS,” katanya di sela-sela kegiatan berlangsung.

PKMM Akan Buka Mata Sampai Jelang Ramadan

Laporan | Suryani Musi

Washilah Online - Mata hanyalah kiasan dari unsur kedirian pada manusia yang paling esensi. Karena salah satu pertanda bahwa manusia itu telah menyadari eksistensinya sebagai manusia adalah ketika ia mampu membaca, baik membaca macro cosmos (alam semesta) maupun micro cosmos (manusia) sebagai representasi dari macro cosmos.

Hal tersebut yang mendasari PKMM yang akan mengadakan kegiatan yang bertema Buka Mata.

“Buka mata merupakan sebuah kritikan terhadap kebutaan sebahagian masyarakat dalam melihat realitas sosial yang sedang berada dalam kekacauan, serta pemerintahan pada khususnya tak terkecuali mahasiswa, para pelaku seni baik dalam maupun di luar lingkungan kampus. Kebutaan itu terjadi karena sebahagian masyarakat telah terpenjara dalam kemiskinan intelektualitas dan moralitas, nilai-nilai luhur kebudayaan lokal semakin dilupakan. Nurani sebagai unsur yang ilahiah pada manusia tak mampu lagi bersuara.,” kata Ketua Umum PKMM Affandi AR.MC jurusan Teknologi Informatika Fakultas Sains dan Teknologi Semester VI , anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Seni Budaya eSA Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar.

Ada beberapa item kegiatan yang akan dilaksanakan yakni Workshop Penciptaan Seni. Kegiatan ini akan diikuti oleh setiap utusan dari lembaga Seni masing – masing, sebagai bukti proses silaturrahmi antar sesama mahasiswa dalam sikap dan kekaryaan dan didampingi beberapa tim fasilitator.

Karnaval, akan melibatkan 250 orang dengan memakai pakaian etnik dari berbagai daerah dan suku yang ada di Indonesia.

Gelar Permainan Rakyat, yang akan melibatkan para pelajar SMU yang ada di kota Makassar dan juga Pekerja Seni Kampus yang ingin berpartisipasi.

Pasar Seni, pada acara ini akan menyiapkan 50 Stand untuk para perupa dari kalangan Mahasiswa dan Umum yang terlibat dalam kegiatan ini, penjualan makanan dan souvenir khas Sulawesi Selatan, selain itu juga akan memamerkan sejumlah karya fotografi, sponsor, dan distro lokal dan lain - lain.

Penerbitan Album Kompilasi Musik, sejumlah lagu dari lembaga-lembaga seni kampus yang telah melalui seleksi dan dipilih oleh tim kurator dan akan launching pada acara Pasar Seni.
Penerbitan Antologi Karya Sastra yang berisikan puisi, cerpen dan esai dari sastrawan kampus yang telah melalui proses seleksi dari tim kurator.
Pertunjukan Kolosal, pertunjukan ini digelar dengan menghadirkan 250 pemain yang akan didukung oleh artistik yang canggih.

Semua item kegiatan tersebut dilaksanakan hanya dalam kurun waktu satu hari. Yakni pada acara puncak (27/07/2011).

“Selain bertujuan untuk mengembangkan kesenian dan melaksanakan sebuah pergelaran seni yang monumental, kegiatan ini juga bertujuan untuk membina mahasiswa agar tampak nila luhur budaya dalam kata dan sikap sehingga hilang citra mahasiswa yang anarkis dan urakan. Mendukung salah satu program pemerintah ”MAKASSAR GREAT EXPECTATION”, lahirnya generasi seniman-seniman baru terkhusus dari kalangan mahasiswa serta memupuk persatuan dan persaudaraan di kalangan mahasiswa agar terkikis kesan mahasiswa yang identik dengan tawuran,” papar Fandi.

Pada 9 April 2011 lalu telah diadakan Seminar dengan tema umum “Buka Mata”. Seminar Budaya ini sebagai bahan acuan untuk Pementasan Kolosal dan kegiatan –kegiatan berikutnya (27/07/2011). Pada seminar tersebut mereka telah mengundang Drs Ishak Ngeljeratan MA dan Dr Moh Sabri AR MA. Pada kegiatan itu hadir para budayawan, seniman, dosen, guru, mahasiswa, dan umum.

Kopma Adakan Bazar Buku Menghadirkan Puluhan Penerbit

Laporan | Rahma

Washilah Online - Untuk kesekian kalinya Perpustakaan Universitas Islam Negeri (UIN ) Makassar bekerjasama dengan sejumlah penerbit buku-buku berkualitas dalam rangka mengadakan bazar buku dengan tema “Makassar Membaca 2011”,yang juga dipromotori langsung oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) koperasi mahasiswa(kopma) dengan sponsor utama,nararya book dan my book,Yogyakarta. Seperti yang berlangsung sejak senin (06/06)kemarin dan berakhir pada hari jumat(10/06) di lantai dasar perpustakaan UIN.

Dalam bazar buku kali ini, hadir lebih dari 20 penerbit buku yang datang  langsung dari Yogyakarta. Dengan hadirnya bazar ini diharapkan akan menjadi tempat untuk mendapatkan buku-buku terbaru bagi mahasiswa UIN. Hal tersebut diungkapkan oleh salah seorang panitia pelaksana bazar ini. Menurutnya dengan hadirnya bazar buku kali ini akan semakin menambah akses bagi mahasiswa untuk mendapatkan buku-buku yang mereka inginkan.

Dalam bazar buku ini dihadirkan inovasi baru, yaitu dengan menghadirkan dua jenis buku diantaranya jenis buku reguler dan buku obral yang bisa didapatkan dengan harga yang lebih murah dan ternyata banyak diminati mahasiswa. 

Diakui panitia, antusiasme mahasiswa terlihat cukup tinggi dalam merespon kegiatan yang berlangsung selama lima hari ini. Sementara itu menurut ketua UKM Kopma, Salman, ”Kopma akan menjadi fasilitas untuk menghadirkan kegiatan semacam ini di masa yang akan datang dan tetap menjalin silaturahmi diantara semua pihak yang terlibat dalam kegiatan ini”, katanya. Ia menambahkan,bazar serupa rencananya akan berlanjut ke sejumlah universitas lain yang ada di Makassar, Jumat (10/6/2011)

Sementara itu, sejumlah mahasiswa mengaku senang dengan hadirnya kegiatan ini, seperti yang diungkapkan Lidya, mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) ini mengakui, kegiatan seperti ini akan membantu mahasiswa mendapatkan buku-buku yang mereka inginkan terutama yang berkaitan dengan jurusan mereka.